Tanpa kita sadari, hidup adalah kumpulan luka-luka. Awal sebuah luka, adalah akhir dari luka sebelumnya. Dan akhir luka sebelumnya adalah awala dari luka selanjutnya.
Ketika kau menutup dirimu karena luka yang masih begitu menganga, kau tengah mengalaminya. Mengalami luka itu. Berharap sebuh hanyalah angan-angan. Sebab tidak ada luka hati yang benar-benar sebuh. Selalu ada bekas yang akan menyiratkan sakit setiap kali kamu mengingatnya.
Dan ketika waktu berlalu, kamu belajar menerima. Berharap bahwa secuil bahagia akan membuat waktu yang terbuang sia-sia -dalam tangis dan derita- akan berakhir. Tapi di sanalah segalanya akan bermula. Luka selanjutnya.
Kita adalah air. Perjalanan kita akan selalu sama.
Mengalir, menguap karena panasnya kehidupan, mengawan, menetes menjadi hujan, dan kembali di alirkan. Akan seperti itu selamanya.
Di sinilah kita berakhir. Di tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terisi sesak oleh kenangan. Di ujung yang tidak diharapkan.
Kamis, 03 September 2015
Jumat, 31 Juli 2015
Yusdi Rahmat
Tidak ada kata yang lebih ingin kuucapkan padamu selain, “aku akan
mencintaimu, selamanya”. Jika kata selamanya terdengar terlalu mengada-ada
bagimu, maka akan kukatakan bahwa “aku akan mencintaimu, selalu”. Dalam setiap
detik hidupku. Aku mencintaimu lebih dari yang mampu aku katakan, lebih dari
yang mampu kamu bayangkan. Kamu berhak untuk tidak percaya, sebab aku sendiri pun
perlu waktu yang cukup lama untuk percaya bahwa aku telah jatuh cinta, padamu.
Namun, semakin aku menolaknya, semakin kamu kokoh di kepalaku.
Aku tidak mengingat banyak hal pada hari kita pertama kali
bertemu. Mendadak seisi dunia menjadi kehilangan kemenarikannya sehingga
satu-satunya yang tersisa untuk dilihat hanyalah kamu. Dan dalam detik-detik
yang singkat itu, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat, “kompleksitasmu”.
Persis seperti senja, tempat bertemunya siang dan malam, gelap dan terang, putih
dan hitam, kamu dengan kompleksitasmu merangkum
dua sisi kehidupan, baik dan buruk. Indah sekaligus mengerikan. Dan sialnya
lagi, aku menganggap itu sebagai sebuah keindahan, bukan kekurang. Lalu,
manusia macam apa yang mampu menolak untuk jatuh cinta pada hal-hal seindah
itu?
Tanpa keinginan untuk mengada-ngada atau melebih-lebihkan, aku
jatuh cinta padamu. Detik itu juga. Aku tidak bermaksud merayumu. Cinta sudah
terlalu norak tanpa harus ditambahkan dengan rayuan sekalipun. Karena itu, aku
ingin jujur padamu. Jujur sejujur-jujurnya.
AKU JATUH CINTA PADAMU, PADA PANDANGAN PERTAMA PULA.
Aku sadar bahwa hadirku di hidupmu pada waktu yang tidak lagi
tepat. Ada batas yang tidak lagi bisa kulangkahi meski aku berusaha sekeras
apapun. Ada dinding yang tidak akan pernah bisa kutembusi meski aku sampai gila
menginginkanmu. Kamu telah menjadi “kemustahilan” pada titik itu. Karena itu,
mencintaimu saja akan lebih dari cukup untuk saat ini. Mencintai tanpa ini dan
itu. Tanpa embel-embel apapun. Cukup “cinta”.
Hidup mungkin akan lebih sederhana bila tidak melibatkan cinta.
Aku cukup berdiam sejenak untuk menatap kenyataan dan mulai menghitung baik dan
buruknya. Pantas atau tidaknya. Kemudian berlalu atau berpaling tanpa harus
takut akan penyesalan yang datang dikemudian hari. Tapi cinta tidaklah
sesederhana itu. Tidaklah segampang itu. Cinta membuat manusia melihat banyak
hal dari sisi yang berbeda, begitu juga dengan aku.
Aku tidak sedang membela diri, tidak juga sedang membenarkan
perbuatanku. Aku tahu, bahkan sampai pada tingkat paham bahwa aku akan
menghadirkan penderitaan untuk kita semua. Untuk semua itu, kuucapkan “maafku”
jauh-jauh hari. Maaf, bila kamu juga dia akan menderita karena semua ini. Tapi
apa yang bisa kulakukan? Aku hanya manusia yang tidak bisa mengelak dari takdir
burukku, jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya, jatuh cinta kepadamu.
Biarkan aku mencoba melihat, ke mana takdir akan mendamparkanku.
Biarkan aku melihat apa yang ingin Tuhan tunjukan padaku kali ini. Pelajaran
macam apa yang lupa kuambil di masa lalu hingga hari ini, aku harus kembali
berhadapan pada takdir seperti ini. Biarkan aku berdiri sejenak di antara
kalian. Menyaksikan bagaimana kisah hidupku ditulis. Bila kelak waktu itu telah
tiba, aku percaya Tuhan akan mengirimkanku semacam tanda untuk berbalik dan
kembali ke posisiku semula. Asing dan tak tersentuh kehidupan. Posisi yang
bertahun-tahun ini kutempati.
Aku tahu kisah ini akan berakhir dengan kesedihan. Sebab,
kesedihan pulalah yang mengawalinya. Sebuah kesedihan yang muncul kita aku
menyadari bahwa aku mencintaimu dan aku akan meninggalkan atau ditinggalkan
olehmu. Sebuah kesedihan yang tidak akan bisa kutakar. Kesedihan yang tidak
tahu harus kunamai apa. Kesedihan yang tidak tertanggungkan, tidak lagi
manusiawi.
Tapi aku tidak lagi takut. Sebab aku telah lama terbiasa dengan
kehilangan, dengan penderitaan. Telah lama bersahabat dengan rasa sakit, dengan
luka. Masa lalu telah mengajarkanku semua itu. Hati memang diciptakan untuk luka meski tidak
untuk kebal terhadapnya. Lagipula, usia penderitaan tidak pernah lebih panjang
dari usia kebahagiaan. Waktu akan menunjukan bahwa yang muncul kepermukaan pada
akhirnya hanyalah kenangan indah tentangmu. Kebahagiaanku.
Karena itu, aku ingin mencoba. Agar setidaknya aku tidak perlu
berurusan dengan “penyesalan” kerena tidak pernah berusaha memperjuangkanmu. Karena
tidak pernah berucap cinta padamu. Karena tidak pernah menunjukan padamu
seberapa penting kamu dalam perjalanan hidupku. Aku tidak ingin menyesali semua
itu di masa mendatang. Karena penyesalan ada untuk selamanya, kekasih. Jalan keluar
dari penyesalan itu hanya ada di masa lalu, ada di masa ketika kita mengambil
keputusan. Sedang jarak dari masa depan ke masa lalu adalah jarak yang tidak
akan pernah bisa kita tempuh lagi. Aku tidak memiliki kemampuan untuk kembali
ke masa itu. Karena itu, kuambil keputusan beresiko ini. “Aku lebih memilih
jatuh ketimbang menyesal.”
Kamu boleh menyalahkanku karena keputusan egoisku ini. Aku sudah
pernah mencoba untuk lari. Namun, semakin jauh aku pergi, semakin besar
keinginanku untuk kembali. Semakin aku mencoba untuk melepaskan, semakin aku
menginginkanmu. Sampai pada akhirnya, aku menyerah dan mengikuti ke mana
kehidupanku mengarah. Ke kamu!
Terima kasih karena membuatku tidak lagi ingin lari. Tidak lagi
ingin bersembunyi. Tidak lagi takut untuk merasa bahagia. Untuk pertama kalinya
dalam beberapa tahun terakhir ini, aku memutuskan untuk melepas sejenak dinding
yang selama ini kubangun untuk melindungi diriku. Dinding yang tidak hanya
membuat aku berjarak dengan dunia di luarku, tapi juga berjarak dengan diriku
sendiri. Dinding yang terbentuk dari hal-hal buruk di masa lalu yang membuat
aku begitu takut pada masa depan yang memiliki terlalu banyak kemungkinan.
Begitu takut untuk kembali percaya. Sebab bagiku, kepercayaan adalah investasi
yang beresiko. Ketika kita berinvestasi pada orang yang salah, kerugian
besarlah yang akan kita terima. Dan demi menghindari ketakutan-ketakutan itu,
kukunci diriku dalam dunia yang hanya ada aku saja. Aku, lengkap dengan segala
penderitaanku.
Terima kasih karena telah membuatku berani untuk jatuh tanpa harus
khawatir aku akan bangkit lagi atau tidak.
Silakan Sakiti Aku Lagi, Kehidupan
Aku pernah menetapkan hati untuk menentukan pilihan "sekali". Dan menderita karena pilihan itu "berkali-kali". Begitu dalamnya penderitaan yang kuterima, aku lupa bahwa hidup masih berjalan, bukan berakhir pada hari kau menghianatiku. Setelah 7 tahun lebih jatuh-bangun mencintai orang yang sama, menangis-tertawa untuk orang yang sama, kini aku tahu kehidupanku bergerak, meski pelan. Dan sialnya, pergerakan itu mengarah pada kesalahan berikutnya. Kesalahan selanjutnya yang sudah terlanjur tidak bisa kuhindari.
Tapi kali ini, aku tidak lagi ingin meminta. Aku hanya akan menerima. Menerima apa saja yang hidup tawarkan padaku. Apa saja yang perjalanan suguhkan untuk kulalui. Merasakan setiap sakit yang harus kuterima. Mensyukuri setiap kebahagian yang mungkin akan kudapatkan. Selebihnya, aku akan berdiam diri. Menyaksikan bagaimana kehidupanku ditulis.
Silahkan sakiti aku lagi. Aku pernah sakit lebih parah dari ini. Kau mungkin akan menjadi luka yang akan membuatku lupa akan seberapa terlukanya aku dulu. Silahkan sakiti aku lagi. Mungkin memang sakit ini dibutuhkan untuk membuat aku tahu, bahwa aku hidup. Bahwa aku masih merasa. Bahwa aku masih mampu menginginkan, meski masih takut untuk meminta. Silahkan sakiti aku lagi, kehidupan. Agar kelak, aku kebal akan segala sakit yang mungkin akan kamu suguhkan pada detik berikutnya di hidupku.
Kamis, 07 Mei 2015
Aku berduka untukmu, bukan karena dirimu.
Izinkan aku berduka untuk dirimu, bukan karena dirimu, untuk kali ini saja. Biar kisakah ini tidak lagi menjadi kisah yang membosankan. Biarkan kisah ini bermakna berbeda dari sebelumnya. Biarkan cinta ini bisa dilihat dari sisi yang terlupakan, terabaikan.
Biarkan aku berduka untukmu. Untuk keburukan yang kamu pilih demi bahagia yang ternyata masih tidak mampu membuatmu merasa "cukup". Biarkan aku berduka untukmu yang lupa pada tujuan hidupmu sendiri. Izinkan aku berduka untukmu yang lupa pada posisi dan tanggung jawabmu sebagai manusia, laki-laki, suami, dan calon ayah.
Jika kamu mengalami kesulitan dalam mengasihani orang lain, untuk kali ini saja, kasihanilah dirimu sendiri. Jika kamu mengalami kesulitan untuk mencintai orang lain selama ini, cintailah dirimu sendiri, untuk kali ini saja. Jangan lagi sibuk mempertimbangkan kiri dan kanan. Pertimbangkanlah dirimu sendiri. Karena penyesalan bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Jangan sampai kamu menghabisi setengah hidupmu untuk menyakiti orang-orang yang mencintaimu dan sisanya untuk menyesali. Tidak ada pintuk keluar dari "penyesalan", Fransiskus Budang. Tidak ada! Karena pintu keluar dari penyesalan ada di masa lalu. Dan aku yakin kamu tidak memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Dan aku juga yakin kamu, aku dan dia tidak akan hidup pada masa mesin waktu ditemukan nanti. Kita tidak akan sampai pada masa di mana pintu untuk keluar dari penyesalan itu terbuka.
Aku mencintaimu dengan segala lebih dan kurangmu. Karena itu aku mampu memahamimu. Aku mampu memahami karena aku mencintai lebih dan kurangmu. Karena kamu adalah senjaku. Tempat di mana aku menemukan gelap dan terang sebagai suatu keseimbangan yang "indah" sekaligus "menakutkan".
Tapi itu mungkin saja hanya berlaku untuk aku, orang yang dengan isi kepala serimbun pohon cemara. Tapi, itu mungkin saja hanya berlaku bagiku, orang dengan kemampuan mencintai sampai pada tahap yang "menakutkan" sekalipun. Itu tidak berlaku pada wanita yang kamu nikahi. Ia hanya perempuan kebanykan dengan keinginan yang sesederhana perempuan kebanykan pula, yakini "menemukan laki-laki yang ia cintai dan mencintainya dengan banyak yang sama pula". Jadi, dia tidak akan paham bahwa senja itu indah justru karena ia mengandung keseimbangan antara terang dan gelap itu sendiri. Dia tidak akan paham bahwa dunia ini abu-abu, bukan hitam dan putih. Dia tidak akan paham bahwa mencintai bukan berarti menguasi. Dia tidak akan paham bahwa tidak ada penjara yang lebih menakutkan selain mencintai dengan keinginan dicintai pula. Dia tidak akan paham bahwa pernikahan hanyalah bonus, bukan kontrak kepemilikan. Dia tidak akan paham bahwa kamu punya isi kepalamu sendiri.
Jadi, untuk kali ini saja, biarkan aku berduka untukmu bukan karenamu. Biarkan aku berduka UNTUK segala keburukan yang kamu lakukan padaku dan padanya, bukan KARENA keburukan yang kamu lakukan padaku juga padanya. Biarkan aku berduka UNTUK kamu yang telah membuat aku dibenci oleh istrimu, bukan KARENA kamu telah membuatku dibenci oleh istrimu. Izinkan aku berduka untukmu yang tidak lagi mampu menemukan kemanusiaan dalam dirimu. Izinkan aku berduka untuk kamu yang tidak lagi mampu menemukan esensi dari mencintai.
Biarkan aku berduka untukmu. Untuk keburukan yang kamu pilih demi bahagia yang ternyata masih tidak mampu membuatmu merasa "cukup". Biarkan aku berduka untukmu yang lupa pada tujuan hidupmu sendiri. Izinkan aku berduka untukmu yang lupa pada posisi dan tanggung jawabmu sebagai manusia, laki-laki, suami, dan calon ayah.
Jika kamu mengalami kesulitan dalam mengasihani orang lain, untuk kali ini saja, kasihanilah dirimu sendiri. Jika kamu mengalami kesulitan untuk mencintai orang lain selama ini, cintailah dirimu sendiri, untuk kali ini saja. Jangan lagi sibuk mempertimbangkan kiri dan kanan. Pertimbangkanlah dirimu sendiri. Karena penyesalan bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Jangan sampai kamu menghabisi setengah hidupmu untuk menyakiti orang-orang yang mencintaimu dan sisanya untuk menyesali. Tidak ada pintuk keluar dari "penyesalan", Fransiskus Budang. Tidak ada! Karena pintu keluar dari penyesalan ada di masa lalu. Dan aku yakin kamu tidak memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Dan aku juga yakin kamu, aku dan dia tidak akan hidup pada masa mesin waktu ditemukan nanti. Kita tidak akan sampai pada masa di mana pintu untuk keluar dari penyesalan itu terbuka.
Aku mencintaimu dengan segala lebih dan kurangmu. Karena itu aku mampu memahamimu. Aku mampu memahami karena aku mencintai lebih dan kurangmu. Karena kamu adalah senjaku. Tempat di mana aku menemukan gelap dan terang sebagai suatu keseimbangan yang "indah" sekaligus "menakutkan".
Tapi itu mungkin saja hanya berlaku untuk aku, orang yang dengan isi kepala serimbun pohon cemara. Tapi, itu mungkin saja hanya berlaku bagiku, orang dengan kemampuan mencintai sampai pada tahap yang "menakutkan" sekalipun. Itu tidak berlaku pada wanita yang kamu nikahi. Ia hanya perempuan kebanykan dengan keinginan yang sesederhana perempuan kebanykan pula, yakini "menemukan laki-laki yang ia cintai dan mencintainya dengan banyak yang sama pula". Jadi, dia tidak akan paham bahwa senja itu indah justru karena ia mengandung keseimbangan antara terang dan gelap itu sendiri. Dia tidak akan paham bahwa dunia ini abu-abu, bukan hitam dan putih. Dia tidak akan paham bahwa mencintai bukan berarti menguasi. Dia tidak akan paham bahwa tidak ada penjara yang lebih menakutkan selain mencintai dengan keinginan dicintai pula. Dia tidak akan paham bahwa pernikahan hanyalah bonus, bukan kontrak kepemilikan. Dia tidak akan paham bahwa kamu punya isi kepalamu sendiri.
Jadi, untuk kali ini saja, biarkan aku berduka untukmu bukan karenamu. Biarkan aku berduka UNTUK segala keburukan yang kamu lakukan padaku dan padanya, bukan KARENA keburukan yang kamu lakukan padaku juga padanya. Biarkan aku berduka UNTUK kamu yang telah membuat aku dibenci oleh istrimu, bukan KARENA kamu telah membuatku dibenci oleh istrimu. Izinkan aku berduka untukmu yang tidak lagi mampu menemukan kemanusiaan dalam dirimu. Izinkan aku berduka untuk kamu yang tidak lagi mampu menemukan esensi dari mencintai.
Senin, 20 April 2015
Fransiskus Budang
Selamat ulang tahun kamu yang lahir pada hari ini. Selalu, aku ingin berterima kasih karena kamu telah lahir ke dunia ini. Selalu, aku ingin berterima kasih pada ibumu yang telah membawamu ke dunia ini. Selalu, aku ingin berterima kasih pada keluargamu karena telah membesarkanmu sehingga aku bisa bertemu denganku.
Kamu tau apa hal yang paling susah untuk dilakukan ketika aku jauh darimu?
MENGABAIKANMU.
Aku tidak mampu melakukan itu. Masih tidak mampu melakukan itu. Aku tidak mampu menahan diriku untuk menghubungimu. Hal berikutnya yang terjadi adalah "nyilu". Nyilu yang muncul ketika aku mengingatmu dan tersadar bahwa aku tidak lagi punya hak bahkan hanya untuk mengetakan "Selamat Ulang Tahun. Aku di sini selalu mendoakanmu. Aku di sini selalu mengingatmu."
Aku mencintaimu Fransiskus Budang. Tidak satu hari pun selama hampir 8 tahun ini aku tidak mengingatmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak merindukanmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak menginginkanmu.
Aku mencintaimu, selalu!
Kamu tau apa hal yang paling susah untuk dilakukan ketika aku jauh darimu?
MENGABAIKANMU.
Aku tidak mampu melakukan itu. Masih tidak mampu melakukan itu. Aku tidak mampu menahan diriku untuk menghubungimu. Hal berikutnya yang terjadi adalah "nyilu". Nyilu yang muncul ketika aku mengingatmu dan tersadar bahwa aku tidak lagi punya hak bahkan hanya untuk mengetakan "Selamat Ulang Tahun. Aku di sini selalu mendoakanmu. Aku di sini selalu mengingatmu."
Aku mencintaimu Fransiskus Budang. Tidak satu hari pun selama hampir 8 tahun ini aku tidak mengingatmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak merindukanmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak menginginkanmu.
Aku mencintaimu, selalu!
Selamat Ulang Tahun. Selamat merayakan hari penuaan #Frans Budang.
Selasa, 25 November 2014
Aku Ingin Membencimu
Aku ingin percaya bahwa segala perlakuan burukmu mampu membuatku membencimu. Aku ingin percaya bahwa segala sakit yang kau berikan cukup untuk kujadikan alasan untuk membencimu. Aku ingin percaya, bahwa aku membencimu.
Tapi, siapa yang kubohongi jika aku menyimpan pemikirian itu? Tentu saja diriku sendiri.
Karena aku mencintaimu.
Masih mencintaimu.
Terlalu mencintaimu.
Dan tidak akan sanggup berhenti mencintaimu.
Tapi, siapa yang kubohongi jika aku menyimpan pemikirian itu? Tentu saja diriku sendiri.
Karena aku mencintaimu.
Masih mencintaimu.
Terlalu mencintaimu.
Dan tidak akan sanggup berhenti mencintaimu.
Bulovee
Rabu, 19 November 2014
Maaf Pertama
Ketika hidup terlalu lama dalam kesengsaraan, kamu akan berhenti melihat manusia sebagai manusia. Ketulusan sebagai ketulusan Orang-orang yang kamu hadapi akan kelihatan sebagai ancaman. Sesuatu yang nanti akan kembali memberi luka. Karena semua itu, kita tidak memiliki kemampuan untuk percaya. Tak peduli manusia seperti apa pun yang kita hadapi, kita akan selalu mengambil jarak. Jarak yang diharapkan mampu melindungi kita dari luka yang sama yang pernah kita alami di masa lalu.
Saya tidak ingin berpikir demikian. Tapi itu sudah tertanam dalam kepala saya. Ada ketakutan yang tidak akan mudah untuk dienyahkan. Ketakutan untuk terjerembab kembali dalam penderitaan yang sama. Penderitaan yang membuat saya kehilangan sebagian sisi kemanusiaan saya. Penderitaan yang membuat saya berharap untuk tidak pernah jatuh cinta lagi. Penderitaan yang membuat saya ingin sendiri untuk selamanya.
Tapi perjalana kehidupan membawa saya ke arah yang lain. Saya bertemu dengan orang seperti kamu. Orang yang terluka mungkin lebih parah dari saya tapi tidak pernah takut untuk mencoba lagi. Tidak pernah takut untuk kembali percaya. Saya iri padamu. Penderitaan di masa lalu membuat kamu melihat masa depan sebagai hal yang harus diperjuangkan. Sedangkan saya, masa depan adalah hal yang ingin saya hidarkan.
Saya tidak pernah menduga bahwa saya akan mencoba untuk membuka hati saya lagi untuk orang yang sama porak-porandanya dengan saya. Lalu, siapa yang akan menjadi penyeimbang untuk kita yang sama rapuhnya. Siapa yang akan menguatkan untuk kita yang sama-sama pernah menyerah pada masa depan. Tapi saya ingin mencobanya. Dan ketika saya putuskan untuk mencoba, tak lantas ketakutan saya hilang begitu saja. Tak lantas saya lupa bahwa saya sekarat dalam jangka waktu yang lama hanya karena saya memberikan hati saya untuk orang yang salah. Lalu, bagaimana jika ternyata kamu juga bukan orang yang tepat? Lalu, bagaimana jika perjalanan ini kembali mengantarkan saya pada tempat yang sama? Penderitaan!
Saya takut menghadapi segala kemungkin. Saya takut akan segala rencana yang jika tidak terwujud tentu saja akan memberikan luka. Namun di atas itu semua, saya takut bahwa sayalah yang kemudian menyakiti kamu karena ketidakmampuan saya memaafkan masa lalu. Ketidakmampuan saya untuk percaya lagi. Ketidakmampuan saya mengatasi ketakutan saya sendiri.
Untuk itu, jauh hari, saya ucapkan MAAF pertama saya untuk kamu karena menjadikan kamu bahan percobaan. Jika besok lusa, ketakutan saya terwujud, tolong jangan membenci saya.
Selasa, 30 September 2014
Cinta memonsterkan manusia 1
Beberapa bulan belakangan ini aku berhadapan dengan orang tidak bisa kukategorikan dalam "manusia macam apa". Tapi jika harus, akan kukategorikan ia ke dalam manusia yang "jiwanya sakit". Bukan dalam arti ia gila. Hanya saja ia tidak mampu menerima kehilangan yang ia sebabkan sendiri. Kemudian ia sibuk mencari orang untuk disalahkan untuk mengurangi luka hatinya. Sebab menanggung kehilangan orang yang paling dicintai karena perbuatan kita sendiri bukanlah penderitaan yang bisa ditanggung dengan mudah. Perlu keberanian dan kelapangan hati untuk menjalani itu. Sedangkan ia terlalu kerdil di kepalanya sendiri hingga lupa bahwa dunia tidak selebar isi kepalanya saja.
Ia menganggap cinta sebagai hutang budi yang harus dibayar. Pengorbanan harus berujung pada mendapatkan. Dan keinginannya harus berakhir pada terwujud. Hingga berubahlah cinta itu menjadi ambisi dan obsesi. Ketika mencintai dilakukan dengan cara yang salah, maka yang didapat tidak akan lebih dari "rasa sakit". Dan ia terlalu pengecut untuk menerima itu.
Ia kehilangan banyak hal demi memperjuangkan satu hal. Keluarga, teman, bahkan pekerjaan. Dan di ujung cerita, ia kehilangan hal yang ia perjuangkan juga. Ketika cinta dipandang sebagai hutang budi yang harus dibayar kembali, Kehilangan bukanlah hal terakhir yang ia inginkan.
Ia menolak untuk menerima bahwa ia telah kalah. Ia menolak untuk menerima bahwa ia telah salah. Ia menolak bahwa kehilangannya adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Orang seperti inilah orang yang kukategorikan ke dalam orang yang jiwanya sakit. Orang yang lupa bahwa hati dan kepala harus digunakan dengan seimbang.
Sejak awal, ia datang datang bukan untuk mendengar kebenaran tapi pembenaran. Dan aku tidak mampu memberikan itu padanya. Sebab bagiku, cinta selalu mengarahkan manusia ke arah yang baik. Dan ketika aku mengatakan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia menemukan sesorang untuk di musuhi ketika keadaan menyakitinya. Ia menemukan seseorang untuk disalahkan ketika kehilangan mendatanginya.
Kupikir cinta tidak membutakannya. Kebodohannyalah yang membutakannya. Kupikir cinta tidak menyakitinya. Obsesi dan ambisinyalah yang menyakitinya.
Jadi, terima kasih karena datang pada saya dengan masalah yang tidak ada urusannya dengan saya. Terima kasih karena menyalahkan saya untuk kehilangan yang kamu sebabkan sendiri. Terima kasih membuat saya menertawakan kebodohanmu. Dan terima kasih telah menunjukan jati diri. Saya kehilangan satu lagi penghianat dalam hidup saya. Ini anugerah terindah.
Minggu, 28 September 2014
Cinta Tidak Memonsterkan Kita
Kejadian hari ini membuatku kembali bersyukur. Sebab aku dan kamu tidak sibuk mencari orang lain untuk disalahkan ketika hubungan kita mulai menyakiti. Aku bersyukur sebab kamu dan aku menerima perpisahan itu dengan baik. Aku bersyukur sebab aku dan kamu mampu melakukan perpisahan yang rapi. Aku bersyukur bahwa aku bertemu denganmu, bukan orang lain yang nantinya sibuk menghitung berapa kerugiannya dan menolak melakukan perpisahan meski itu sudah mesti terjadi. Menganggap cinta sebagai utang budi yang harus dilunasi. Menganggap pengorbanannya harus dibayar dengan harga yang pantas, yakni keinginannya.
Aku bersyukur kamu menjagaku hingga selesai. Aku bersyukur kamu tidak menjadikan hubungan kita sebagai tontonan publik. Aku bersyukur kamu menjadi manusia yang berahasia. Aku bersyukur kamu mencintai dengan cara yang benar. Aku bersyukur cinta membuatmu mampu membedakan hal yang benar dan tidak. Aku bersyukur untuk segalanya.
Aku bersyukur kamu tidak mempermalukanku ketika kamu tidak lagi bisa jadi pilihanku. Aku bersyukur kamu tidak membalas perbuatan buruku dengan perbuatan buruk pula. Aku bersyukur kamu menunjukan cinta yang apa adanya. Aku bersyukur kamu memiliki ambisi yang tidak melukaiku. Aku bersyukur kamu membebaskanku untuk memilih yang baik untukku. Aku bersyukur kamu tidak menjadikanku refleksi dari isi kepalamu. Aku bersyukur untuk kenangan manis yang masih membuatku menangis. Aku bersyukur untuk kenangan buruk yang membuatku membuka mata lebih lebar. Aku bersyukur doa yang kau ucapkan tanpa pernah kutau. Aku bersyukur kamu tidak menjadi monster hanya kerena kehidupan tidak sesuai dengan keinginanmu.
Aku bersyukur untuk segalanya kekasih. Untuk segalanya!
Minggu, 06 Juli 2014
Entahlah
Mendadak merasa kesepian. Padahal hari ini tidak ada kejadian buruk yang saya alami. Dan detik ini, saya duduk di antara puluhan orang yang tidak saya kenal, tapi berisik kok. Lalu, bagaimana caranya rasa sepi itu bisa menyelinap begitu saja? Tanpa sebab pula.
Saya berpikir bahwa waktu telah membuat saya terbiasa. Telah membuat saya paham. Tapi kehidupan kadang lucunya tidak ketulungan. Saya sama sekali tidak terbiasa meski waktu telah jauh berlalu. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak meninggalkan masa lalunya barang sehari saja. Bernafas untuk hari itu saja. Mengingat hal-hal yang terjadi hari itu saja. Berbicara pada orang-orang yang ada pada hari itu saja. Saya tidak paham. Tidak juga terbiasa.
Saya telah belajar menerima bahwa kesepian ini adalah bagian dari diri saya. Hal yang telah saya alami, sedang saya alami dan akan tetap saya alami. Seharusnya ini tidak lagi menjadi masalah. Tidak lagi menjadi hal yang mengganggu. Toh, saya sudah hidup bergandengan dengannya bertahun-tahun. Tapi ada hari di mana rasa kesepian itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tidak bisa hanya sebatas dirasakan. Ia menuntut untuk diperhatikan. Menuntut untuk diselesaikan.
Saya ingin menyerah. Tapi jalan untuk menyerah saja tidak ada.
Lalu?
Entahlah!
Saya berpikir bahwa waktu telah membuat saya terbiasa. Telah membuat saya paham. Tapi kehidupan kadang lucunya tidak ketulungan. Saya sama sekali tidak terbiasa meski waktu telah jauh berlalu. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak meninggalkan masa lalunya barang sehari saja. Bernafas untuk hari itu saja. Mengingat hal-hal yang terjadi hari itu saja. Berbicara pada orang-orang yang ada pada hari itu saja. Saya tidak paham. Tidak juga terbiasa.
Saya telah belajar menerima bahwa kesepian ini adalah bagian dari diri saya. Hal yang telah saya alami, sedang saya alami dan akan tetap saya alami. Seharusnya ini tidak lagi menjadi masalah. Tidak lagi menjadi hal yang mengganggu. Toh, saya sudah hidup bergandengan dengannya bertahun-tahun. Tapi ada hari di mana rasa kesepian itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tidak bisa hanya sebatas dirasakan. Ia menuntut untuk diperhatikan. Menuntut untuk diselesaikan.
Saya ingin menyerah. Tapi jalan untuk menyerah saja tidak ada.
Lalu?
Entahlah!
Minggu, 29 Juni 2014
Sudah berakhirkah?
Sudah selesaikah?
Sudah benar-benar selesaikah kemelut perasaan yang saya alami lebih dari 8 tahun belakangan ini? Menangis dan tertawa untuk hal yang sama. Jatuh dan bangun untuk orang yang sama. Berkelut dalam masalah yang sama. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika diibaratkan dengan usia manusia, masalah saya sudah duduk di bangku kelas 2 SD. Mungkin sudah bisa ikut lomba menyanyi, lomba lari, lomba menggambar, atau lomba tinju. Tapi karena itu usai masalah, satu-satunya hal yang didapat hanyalah secuil kebahagian yang tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami.
Saya selalu takut bahwa kisah cinta saya berakhir di kalkulator. Setelah berpisah mulailah kita saling menghitung berapa banyak kebaikan yang diberikan dan berapa banyak keburukan yang diterima? Berapa banyak kerugian materi yang dialami? Dan siapa yang paling sering dirugikan? Saya selalu takut akan hal itu. Dan beberpa tahun setelah berpisah, ketakutan saya pada akhirnya jadi kenyataan. Saya mulai menimbang-nimbang siapa yang paling dirugikan dari memperjuangkan hubungan yang tidak memiliki masa depan itu. Dan setelah dihitung-hitung, skornya mungkin, ini hanya mungkin 0-belasan. Atau 0-puluhan. Saya tidak lagi ingat berapa banyak kamu menghianati saya. Berapa banyak kamu menyakiti saya. Berapa banyak saya menangis untukmu.
Dan setelah mengalami letih yang teramat sangat, beberapa bulan yang lalu saya pada akhirnya berhenti mengalah. Saya tidak lagi mampu mengalah ketika kamu terus mendorong saya untuk menyakitimu. Akhirnya, skornya pun berubah. 1-sekian. Biarkan kamu menyimpan 1 perbuatan buruk saya untuk dikenang di kala waktu kosongmu. Agar kamu merasakan sepersekian rasa sakit yang aku alami karena mengingat segala perbuatan burukmu.
Sudah berakhirkah? Saya harap jawabannya "IYA".
Sudah benar-benar selesaikah kemelut perasaan yang saya alami lebih dari 8 tahun belakangan ini? Menangis dan tertawa untuk hal yang sama. Jatuh dan bangun untuk orang yang sama. Berkelut dalam masalah yang sama. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika diibaratkan dengan usia manusia, masalah saya sudah duduk di bangku kelas 2 SD. Mungkin sudah bisa ikut lomba menyanyi, lomba lari, lomba menggambar, atau lomba tinju. Tapi karena itu usai masalah, satu-satunya hal yang didapat hanyalah secuil kebahagian yang tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami.
Saya selalu takut bahwa kisah cinta saya berakhir di kalkulator. Setelah berpisah mulailah kita saling menghitung berapa banyak kebaikan yang diberikan dan berapa banyak keburukan yang diterima? Berapa banyak kerugian materi yang dialami? Dan siapa yang paling sering dirugikan? Saya selalu takut akan hal itu. Dan beberpa tahun setelah berpisah, ketakutan saya pada akhirnya jadi kenyataan. Saya mulai menimbang-nimbang siapa yang paling dirugikan dari memperjuangkan hubungan yang tidak memiliki masa depan itu. Dan setelah dihitung-hitung, skornya mungkin, ini hanya mungkin 0-belasan. Atau 0-puluhan. Saya tidak lagi ingat berapa banyak kamu menghianati saya. Berapa banyak kamu menyakiti saya. Berapa banyak saya menangis untukmu.
Dan setelah mengalami letih yang teramat sangat, beberapa bulan yang lalu saya pada akhirnya berhenti mengalah. Saya tidak lagi mampu mengalah ketika kamu terus mendorong saya untuk menyakitimu. Akhirnya, skornya pun berubah. 1-sekian. Biarkan kamu menyimpan 1 perbuatan buruk saya untuk dikenang di kala waktu kosongmu. Agar kamu merasakan sepersekian rasa sakit yang aku alami karena mengingat segala perbuatan burukmu.
Sudah berakhirkah? Saya harap jawabannya "IYA".
Kamis, 26 Juni 2014
Bacalah Terlebih Dulu
Hari ini saya hanya ingin berbagi kebodohan. Sedikit kebodohan. Sebenarnya, ceritanya agak panjang. Sebab, sebuah kisah tidak semerta-merta berawal begitu saja. Ada kisah sebelumnya yang mendasari terjadinya kisah itu. Tapi kerena ini mungkin akan menjadi kisah panjang yang membosankan, maka akan saya singkat menjadi secukupnya saja.
Saya terlahir di keluarga yang dipenuhi dengan perempuan. Saya memiliki 3 kakak perempuan yang memiliki perbedaan usia yang lumayan jauh dari saya. Jadi, ketika mereka sudah mulai bernajak dewasa, saya masih menjadi anak-anak yang menyebalkan. Mereka mengurusi semua urusan rumah bersama Ibu dan nenek. Saya tidak kebagian mengurusi apapun selian mengurusi diri saya sendiri. Akibatnya, saya besar tanpa tahu apa-apa. Bahkan, celana dalam saya saja masih dicucikan oleh ibu saya ketika saya sudah duduk di bangku SMP. Ketika masih kecil, kesalahan-kesalahan yang saya lakukan karena ketidaktahuan saya tentang urusan perempuan (rumah tangga) itu masih terdengar lucu. Namun, bertambah dewasa, bertambah kuranglah kadar kelucuan itu.
Beberapa tahun yang silam, saya pernah memasak osengan kacang panjang yang berakhir jadi makanan ayam kerena tidak ada satu pun orang di rumah yang bersedia memakannya. Osengan itu terasa seperti kolak kacang panjang. Terlalu manis. Dan beberapa tahun sebelumnya juga, saya pernah menggoreng pisang atas permintaan ayah saya. Yang terjadi adalah pisangnya gosong dan tangan sayalah yang matang kerena tercebur dalam minyak panas. Kemudian dengan santainya nenek saya (alm) berkata, "Tidak apa-apa. Masih kecil kok." Saya tidak tahu dari sudut pandang mana dia melihat sehingga anak berusia 23 tahun masih terlihat seperti anak kecil di matanya. Lalu, saya gunakan kalimat itu untuk memaafkan kekurangan saya. Memandang hal-hal luar biasa seperti itu terlihat seperti biasa.
Dan beberapa hari yang lalu, ayah saya meminta saya untuk membuatkanya secangkir kopi. Karena ketidaktahuan saya di masa lalu yang masih berefek hingga sekarang, saya pada akhirnya juga tidak tahu bagaimana cara membuat secangkir kopi. Saya tidak tahu berapa banyak kopi yang harus saya masukan untuk segelas kopi. Berapa banyak krim yang harus saya tambahkan untuk menikmatkan secangkir kopi. Berapa banyak gula yang harus saya campurkan untuk memaniskan secangkir kopi. Dengan resep menebak-nebak, jadilah secangkir kopi yang semut saja tidak bersedia mati di dalamnya karena terlalu pahit. Saya menyeduhkan dua sendok makan kopi dalam secangkir air hangat yang seharusnya hanya berisi satu sendok teh kopi. Jadi, banyangkan betapa pahitnya kopi itu. Dan parahnya lagi, saya baru tahu tentang kesalahan itu justru setelah kopinya jadi dikarenakan saya lupa bahwa selalu ada petunjuk penyajian dalam setiap kemasan makanan.
Ketika esok pagi tiba dan saya mencoba untuk menyeduh gelas kedua kopi untuk ayah saya, saya memasukan satu sendoh teh kopi sesuai petunjuk. Namun, masalah tidak selesai sampai di sana. Karena pada kemasan "krim kopi" hanya dituliskan "tembahkan krim secukupnya". Mereka seharusnya tidak melakukan itu. Karena untuk orang-orang seperti saya, "secukupnya" bukanlah petunjuka yang bisa diikuti dengan mudah karena saya tidak tahu "seckupnya" yang mereka maksudkan itu seperti apa. Jadilah kopi kedua saya seperti susu kopi, bukan kopi susu.
Saya tahu ini cerita memalukan. Karena tidak sewajarnya perempuan berusia 26 tahun bahkan tidak mampu membuat secangkir kopi dengan benar. Tapi, saya merasa saya perlu membaginya. Lalu, siapakah yang harus disalahkan? Saya atau orang-orang yang membuat saya tumbuh menjadi perempuan yang kekurangan sisi keperempuanannya?
Jadi, saran saya untuk orang-orang yang kekurangan pengetahuan seperti saya, bacalah dulu segala petunjuk penyajian agar mengurangi kadar kebodohan Anda. Dan untuk semua pabrik pemroduksi makanan atau menuman, tolong buatlah petunjuk penyajian yang jelas. Agar orang-orang seperti saya tidak lagi tercebur dalam kebodohan yang sama. Sekian dan terima kasih.
Sabtu, 21 Juni 2014
Saya tidak paham, kenapa tetiba saja ada sepi yang mengendap di hati saya pagi ini. Muncul begitu saja di antara hangat matahari yang baru saja mengendap dan sisa dingin tadi malam.
Tentu saja karena kamu. Dan akan selalau karena kamu. Kesadaran bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari kita membuat saya merasa bahwa sudah tidak ada lagi yang terisa dari saya. Perpisahan kita telah menghancurkan segalanya. Tinggalah saya dengan setumpuk ingatan tanpa tanggal kadaluarsa. Seperti orang bebal yang paham sudah saatnya ia pergi tapi menolak melakukan itu. Dan ingatan saya menolak melakukan itu. Ia menolak menyingkirkan kamu bahkan untuk satu hari saja.
Saya hanya tidak paham, kenapa saya harus melakukan itu. Bukankah yang tersisa dari ingatan seperti itu hanyalah duka. Lalu mengapa saya tidak bersedia melepaskannnya. Membiarkan mereka mengendap di alam bawah sadar saya. Kemudian terlupakan. Mungkin hidup saya akan lebih baik jika begitu. Tapi ingatan memilih kehidupan mereka sendiri. Dan mereka jugalah yang memilih bagaimana mereka akan mati dan lenyap dari kepala seseorang.
Tentu saja karena kamu. Dan akan selalau karena kamu. Kesadaran bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari kita membuat saya merasa bahwa sudah tidak ada lagi yang terisa dari saya. Perpisahan kita telah menghancurkan segalanya. Tinggalah saya dengan setumpuk ingatan tanpa tanggal kadaluarsa. Seperti orang bebal yang paham sudah saatnya ia pergi tapi menolak melakukan itu. Dan ingatan saya menolak melakukan itu. Ia menolak menyingkirkan kamu bahkan untuk satu hari saja.
Saya hanya tidak paham, kenapa saya harus melakukan itu. Bukankah yang tersisa dari ingatan seperti itu hanyalah duka. Lalu mengapa saya tidak bersedia melepaskannnya. Membiarkan mereka mengendap di alam bawah sadar saya. Kemudian terlupakan. Mungkin hidup saya akan lebih baik jika begitu. Tapi ingatan memilih kehidupan mereka sendiri. Dan mereka jugalah yang memilih bagaimana mereka akan mati dan lenyap dari kepala seseorang.
Minggu, 15 Juni 2014
Pacar dan Krim Wajah
Memilih pacar itu sama seperti milih krim wajah. Ketika sudah muncul jerawat sebagai efek yang tidak diharapkan, itu pertanda bagi kita untuk mempersiapkan diri untuk memilih krim wajah lain. Hanya "mempersiapkan diri" saja. Sebab, kalau langsung mengganti krimnya, ini akan terdengar tidak adil. Sebab, segala sesuatu butuh waktu. Waktu bagi kulitmu untuk menyesuaikan diri. Waktu bagi krim wajah itu untuk memahami kulitmu dan bekerja sesuai harapan yang dijanjikan. Tapi, jika telah beberapa saat berlalu dan masih tidak menunjukan penyesuaikan diri, tidak menunjukan perubahan, tidak menunjukan perbaikan, itulah waktu yang tepat untuk beralih ke krim wajah yang lainnya.
Jika kita terus memaksakan diri memakai krim wajah tersebut dengan alasan "sudah terlanjur dibeli" meski tidak ada perbaikan pada wajah, kita sudah salah arah. Kita sudah menyimpang dari tujuan awal, yakni punya wajah mulus dan bersih.
Begitu juga dengan pacar. Ketika kita memilih sesorang untuk dipacari atau memacari kita, berilah ia waktu untuk memahami kita. Berilah diri kita sendiri waktu untuk memahaminya. Dan jika, dikemudian hari kita menyadari bahwa pilihan itu tidak membawa kita ke arah perbaikan, tidak membawa kita ke tujuan yang ingin dicapai, yakni "bahagia" maka pergilah.
Jangan bertahan terlalu lama dengan alasan cinta. Jika kita memutuskan untuk bertahan mencintai sesorang dengan alasan cinta, padahal pada kenyataannya hubungan itu tidak mengarah ke perbaikan sama sekali, kita sudah jauh menyimpang dari tujuan awal. Kita mengikat diri dengan orang lain, mencintai dan dicintai dengan keinginan untuk bahagia. Lalu, untuk apa bertahan atau mempertahankan atau dipertahankan jika sebenarnya tidak ada kebahagian di sana.
Rengkuhlan keberanian kita untuk menderita kehilangan. Peluklah keberanian kita untuk sendiri dan kesepian. Karena itu jauh lebih baik ketimbang menyakiti atau disakiti. Pergilah dengan anggapan bahwa dia tidak cocok dengan kita. Bukan karena dia tidak baik atau kita yang tidak baik. Jika kita pergi dengan pemikiran seperti itu, kita telah berlaku tidak adil padanya atau pada diri kita sendiri. Kita meletakkan kesalahan hanya pada satu pihak saja. Padahal, untuk mengikat diri, dibutuhkan kesepakatan kedua belah pihak. Dan jika kesepakatan itu menyakiti, efek sampingnya juga harus ditanggung oleh kedua belah pihak.
Berdamailah dengan perasaan takut kehilangan. Berdamailah dengan krim wajah yang tidak cocok dengan kita.
Sabtu, 14 Juni 2014
Cinta Adalah Perkara
Mencintai tidak pernah menjadi perkara mudah ketika orang yang kita cintai tidak pernah merasa cukup hanya dengan kehadiran kita saja. Tidak pernah merasa lengkap hanya dengan memiliki kita saja. Pada saat seperti itulah, kita akan diminta untuk memahami lebih, mengalah sebanyak mungkin, bersabar sepanjang waktu. Jika tidak begitu, kehilangan akan menjadi satu-satunya pilihan. Dan ketakutan untuk kehilangan menyebabakan cinta menjadi perkara yang kian rumit karena kita akan bersedia menerima penderitaan macam apa saja. Padahal, yang dibutuhkan untuk barhenti sengsara hanyalah satu, keberanian untuk sendiri.
Frans Budang
Beauty and The Beast
Sedang demam [parah] series "Beauty and The Beast". Udah nonton berkali-kali pun tetap ingin nonton lagi. Hal yang paling saya suka dari cerita ini adalah bagaimana si Beast berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik dan menerima kekurangannya sebagaia bagian dari dirinya. Dan si Beauty menerima kekuranganya itu sebagai bagian dari mencintai. Sebab cinta tidak melulu masalah "lebih", tapi masalah menerima. Dan penerimaan adalah langkah pertama yang harus diambil untuk bahagia dalam hidup yg tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Cinta tidak akan membuat kita menuntut orang yg kita cintai menjadi cermin bagi keinginan kita.
Begitulah seharusnya cinta. Membuat kita menerima diri kita sendiri dan menerima dia apa adanya.
Begitulah seharusnya cinta. Membuat dia menerima dirinya sendiri dan kita apa adanya.
Meski ketidaksempuarnaan nampak bahkan dengan mata tertutup, tapi cinta mampu membuat kita menemukan sisi yang membuat kita tetap saling menerima tanpa harus menjadi sempurna. Sebab cinta adalah penerimaan. Bahkan penerimaan terhadap penderitaan sekalipun. Dan cinta pada akhirnya menjadi satu-satunya alasan untuk saling memperjuangkan.
Aku bersedia memeluk penderitaan dengan suka rela hanya untuk mengalami cinta seperti itu. Cinta yang membuat aku diterima dan menerima tanpa syarat. Menerima dia dan diriku sendiri sebagai ketidaksempurnaan yang tidak perlu disempurnakan hanya untuk bahagia.
Cinta tidak akan membuat kita menuntut orang yg kita cintai menjadi cermin bagi keinginan kita.
Begitulah seharusnya cinta. Membuat kita menerima diri kita sendiri dan menerima dia apa adanya.
Begitulah seharusnya cinta. Membuat dia menerima dirinya sendiri dan kita apa adanya.
Meski ketidaksempuarnaan nampak bahkan dengan mata tertutup, tapi cinta mampu membuat kita menemukan sisi yang membuat kita tetap saling menerima tanpa harus menjadi sempurna. Sebab cinta adalah penerimaan. Bahkan penerimaan terhadap penderitaan sekalipun. Dan cinta pada akhirnya menjadi satu-satunya alasan untuk saling memperjuangkan.
Aku bersedia memeluk penderitaan dengan suka rela hanya untuk mengalami cinta seperti itu. Cinta yang membuat aku diterima dan menerima tanpa syarat. Menerima dia dan diriku sendiri sebagai ketidaksempurnaan yang tidak perlu disempurnakan hanya untuk bahagia.
Rabu, 11 Juni 2014
Keracunan Rindu
"Aku keracunan," kataku padamu lewat pesan singkat yang kukirim pada suatu malam dengan rindu yang membucah. Rindu yang menyesak hingga mengganggu proses pernafasan. Rindu yang membawa nyilu yang semu. Kala itu, gerimis sedang turun selembut embun di luar. Dan aku tidak lagi sanggup untuk menolak merindukanmu. Kemudian, beberapa menit berikutnya, kamu menelpon. Dengan suara penuh khawatir, kamu bertanya. "Kamu baik-baik saja?" "Kok bisa?" "Karacunan apa?"
"Keracunan rindu", kataku setelah rentetan pertanyaanmu selesai. Setelah kamu terdiam dan hanya nafas khawatirmu yang memburu memenuhi rongga telingaku.
"Kimput", katamu sebagai balasan. "Aku mengkhawatirkanmu setengah mati dan kamu masih sempat-sempatnya main-main."
Detik berikutnya, kita tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan leluconku, melainkan menertawakan kesadaran kita. Kesadaran bahwa kita masih sama-sama tahu bahwa cinta kita belum terbunuh. Bahwa perpisahan tidak menjadi jalan buntu yang harus membuat kita berpaling dan saling melupakan.
Bukankah hidup terlihat lucu? Kita sama-sama mengetahui bahwa kita saling mencintai. Bahwa kita masih mencintai. Bahwa kita belum mampu saling melepaskan. Tapi kita justru memilih perpisahan lantaran terbentur pada perbedaan. Lalu, untuk apa cinta jika tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyatukan? Untuk menguatkan? Aku tidak pernah memahami masalah ini. Mungkin tidak akan sanggup memahaminya, selamanya.
Tapi, untuk menghormati kebahagian dan penderitaan yang pernah kita alami untuk merasakan mencintai dan dicintai, aku menganggap bahwa kita adalah pertemuan yang ditakdirkan untuk sebatas menjadi kenangan.
Untuk: Fransiskus Budang
Senin, 02 Juni 2014
Ingatlah
Kamu selalu punya pilihan.
Ingat itu.
Ketika kamu memilih untuk menyelamatkan dirimu dengan menyakiti orang lain, ingatlah bahwa sekecil apapun pilihan tetap akan memiliki konsekuensi.
Dan ketika konsekuensi itu datang, ingatlah bahwa aku telah memperingatkanmu akan hal ini.
Dan ketika kamu benar-benar mengingat hal ini, ingatlah bahwa semua ini sudah berlalu. Dan tidak ada jalan bagimu untuk kembali.
Ingatlah bahwa dulu kita adalah manusia yang mengikat diri dengan cara yang baik dan tujuan yang baik pula. Tapi ketika keadaan menyakiti kita, tak lantas kita perlu menyakiti satu sama lain hanya untuk mempertahankan diri. Kita adalah cinta. Dan cinta tidak menyakiti tapi membebaskan.
Aku mencintaimu, selalu Fransiskus Budang!
Ingat itu.
Ketika kamu memilih untuk menyelamatkan dirimu dengan menyakiti orang lain, ingatlah bahwa sekecil apapun pilihan tetap akan memiliki konsekuensi.
Dan ketika konsekuensi itu datang, ingatlah bahwa aku telah memperingatkanmu akan hal ini.
Dan ketika kamu benar-benar mengingat hal ini, ingatlah bahwa semua ini sudah berlalu. Dan tidak ada jalan bagimu untuk kembali.
Ingatlah bahwa dulu kita adalah manusia yang mengikat diri dengan cara yang baik dan tujuan yang baik pula. Tapi ketika keadaan menyakiti kita, tak lantas kita perlu menyakiti satu sama lain hanya untuk mempertahankan diri. Kita adalah cinta. Dan cinta tidak menyakiti tapi membebaskan.
Aku mencintaimu, selalu Fransiskus Budang!
Langganan:
Postingan (Atom)