Sudah selesaikah?
Sudah benar-benar selesaikah kemelut perasaan yang saya alami lebih dari 8 tahun belakangan ini? Menangis dan tertawa untuk hal yang sama. Jatuh dan bangun untuk orang yang sama. Berkelut dalam masalah yang sama. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika diibaratkan dengan usia manusia, masalah saya sudah duduk di bangku kelas 2 SD. Mungkin sudah bisa ikut lomba menyanyi, lomba lari, lomba menggambar, atau lomba tinju. Tapi karena itu usai masalah, satu-satunya hal yang didapat hanyalah secuil kebahagian yang tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami.
Saya selalu takut bahwa kisah cinta saya berakhir di kalkulator. Setelah berpisah mulailah kita saling menghitung berapa banyak kebaikan yang diberikan dan berapa banyak keburukan yang diterima? Berapa banyak kerugian materi yang dialami? Dan siapa yang paling sering dirugikan? Saya selalu takut akan hal itu. Dan beberpa tahun setelah berpisah, ketakutan saya pada akhirnya jadi kenyataan. Saya mulai menimbang-nimbang siapa yang paling dirugikan dari memperjuangkan hubungan yang tidak memiliki masa depan itu. Dan setelah dihitung-hitung, skornya mungkin, ini hanya mungkin 0-belasan. Atau 0-puluhan. Saya tidak lagi ingat berapa banyak kamu menghianati saya. Berapa banyak kamu menyakiti saya. Berapa banyak saya menangis untukmu.
Dan setelah mengalami letih yang teramat sangat, beberapa bulan yang lalu saya pada akhirnya berhenti mengalah. Saya tidak lagi mampu mengalah ketika kamu terus mendorong saya untuk menyakitimu. Akhirnya, skornya pun berubah. 1-sekian. Biarkan kamu menyimpan 1 perbuatan buruk saya untuk dikenang di kala waktu kosongmu. Agar kamu merasakan sepersekian rasa sakit yang aku alami karena mengingat segala perbuatan burukmu.
Sudah berakhirkah? Saya harap jawabannya "IYA".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar