Hari ini saya hanya ingin berbagi kebodohan. Sedikit kebodohan. Sebenarnya, ceritanya agak panjang. Sebab, sebuah kisah tidak semerta-merta berawal begitu saja. Ada kisah sebelumnya yang mendasari terjadinya kisah itu. Tapi kerena ini mungkin akan menjadi kisah panjang yang membosankan, maka akan saya singkat menjadi secukupnya saja.
Saya terlahir di keluarga yang dipenuhi dengan perempuan. Saya memiliki 3 kakak perempuan yang memiliki perbedaan usia yang lumayan jauh dari saya. Jadi, ketika mereka sudah mulai bernajak dewasa, saya masih menjadi anak-anak yang menyebalkan. Mereka mengurusi semua urusan rumah bersama Ibu dan nenek. Saya tidak kebagian mengurusi apapun selian mengurusi diri saya sendiri. Akibatnya, saya besar tanpa tahu apa-apa. Bahkan, celana dalam saya saja masih dicucikan oleh ibu saya ketika saya sudah duduk di bangku SMP. Ketika masih kecil, kesalahan-kesalahan yang saya lakukan karena ketidaktahuan saya tentang urusan perempuan (rumah tangga) itu masih terdengar lucu. Namun, bertambah dewasa, bertambah kuranglah kadar kelucuan itu.
Beberapa tahun yang silam, saya pernah memasak osengan kacang panjang yang berakhir jadi makanan ayam kerena tidak ada satu pun orang di rumah yang bersedia memakannya. Osengan itu terasa seperti kolak kacang panjang. Terlalu manis. Dan beberapa tahun sebelumnya juga, saya pernah menggoreng pisang atas permintaan ayah saya. Yang terjadi adalah pisangnya gosong dan tangan sayalah yang matang kerena tercebur dalam minyak panas. Kemudian dengan santainya nenek saya (alm) berkata, "Tidak apa-apa. Masih kecil kok." Saya tidak tahu dari sudut pandang mana dia melihat sehingga anak berusia 23 tahun masih terlihat seperti anak kecil di matanya. Lalu, saya gunakan kalimat itu untuk memaafkan kekurangan saya. Memandang hal-hal luar biasa seperti itu terlihat seperti biasa.
Dan beberapa hari yang lalu, ayah saya meminta saya untuk membuatkanya secangkir kopi. Karena ketidaktahuan saya di masa lalu yang masih berefek hingga sekarang, saya pada akhirnya juga tidak tahu bagaimana cara membuat secangkir kopi. Saya tidak tahu berapa banyak kopi yang harus saya masukan untuk segelas kopi. Berapa banyak krim yang harus saya tambahkan untuk menikmatkan secangkir kopi. Berapa banyak gula yang harus saya campurkan untuk memaniskan secangkir kopi. Dengan resep menebak-nebak, jadilah secangkir kopi yang semut saja tidak bersedia mati di dalamnya karena terlalu pahit. Saya menyeduhkan dua sendok makan kopi dalam secangkir air hangat yang seharusnya hanya berisi satu sendok teh kopi. Jadi, banyangkan betapa pahitnya kopi itu. Dan parahnya lagi, saya baru tahu tentang kesalahan itu justru setelah kopinya jadi dikarenakan saya lupa bahwa selalu ada petunjuk penyajian dalam setiap kemasan makanan.
Ketika esok pagi tiba dan saya mencoba untuk menyeduh gelas kedua kopi untuk ayah saya, saya memasukan satu sendoh teh kopi sesuai petunjuk. Namun, masalah tidak selesai sampai di sana. Karena pada kemasan "krim kopi" hanya dituliskan "tembahkan krim secukupnya". Mereka seharusnya tidak melakukan itu. Karena untuk orang-orang seperti saya, "secukupnya" bukanlah petunjuka yang bisa diikuti dengan mudah karena saya tidak tahu "seckupnya" yang mereka maksudkan itu seperti apa. Jadilah kopi kedua saya seperti susu kopi, bukan kopi susu.
Saya tahu ini cerita memalukan. Karena tidak sewajarnya perempuan berusia 26 tahun bahkan tidak mampu membuat secangkir kopi dengan benar. Tapi, saya merasa saya perlu membaginya. Lalu, siapakah yang harus disalahkan? Saya atau orang-orang yang membuat saya tumbuh menjadi perempuan yang kekurangan sisi keperempuanannya?
Jadi, saran saya untuk orang-orang yang kekurangan pengetahuan seperti saya, bacalah dulu segala petunjuk penyajian agar mengurangi kadar kebodohan Anda. Dan untuk semua pabrik pemroduksi makanan atau menuman, tolong buatlah petunjuk penyajian yang jelas. Agar orang-orang seperti saya tidak lagi tercebur dalam kebodohan yang sama. Sekian dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar