Rabu, 11 Juni 2014

Keracunan Rindu

"Aku keracunan," kataku padamu lewat pesan singkat yang kukirim pada suatu malam dengan rindu yang membucah. Rindu yang menyesak hingga mengganggu proses pernafasan. Rindu yang membawa nyilu yang semu. Kala itu, gerimis sedang turun selembut embun di luar. Dan aku tidak lagi sanggup untuk menolak merindukanmu. Kemudian, beberapa menit berikutnya, kamu menelpon. Dengan suara penuh khawatir, kamu bertanya. "Kamu baik-baik saja?" "Kok bisa?" "Karacunan apa?"


"Keracunan rindu", kataku setelah rentetan pertanyaanmu selesai. Setelah kamu terdiam dan hanya nafas khawatirmu yang memburu memenuhi rongga telingaku.


"Kimput", katamu sebagai balasan. "Aku mengkhawatirkanmu setengah mati dan kamu masih sempat-sempatnya main-main."


Detik berikutnya, kita tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan leluconku, melainkan menertawakan kesadaran kita. Kesadaran bahwa kita masih sama-sama tahu bahwa cinta kita belum terbunuh. Bahwa perpisahan tidak menjadi jalan buntu yang harus membuat kita berpaling dan saling melupakan.


Bukankah hidup terlihat lucu? Kita sama-sama mengetahui bahwa kita saling mencintai. Bahwa kita masih mencintai. Bahwa kita belum mampu saling melepaskan. Tapi kita justru memilih perpisahan lantaran terbentur pada perbedaan. Lalu, untuk apa cinta jika tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyatukan? Untuk menguatkan? Aku tidak pernah memahami masalah ini. Mungkin tidak akan sanggup memahaminya, selamanya.


Tapi, untuk menghormati kebahagian dan penderitaan yang pernah kita alami untuk merasakan mencintai dan dicintai, aku menganggap bahwa kita adalah pertemuan yang ditakdirkan untuk sebatas menjadi kenangan.



Untuk: Fransiskus Budang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar