Kamis, 20 September 2012

Tahun ke 2

Dua tahun yang lalu, saya menangis di bawah hujan. Dengan isak yang hampir membuat saya susah menarik nafas, saya menguatkan hati, menyemangati diri, bahwa hari itu segalanya harus selesai. Derita kita akan berakhir di ujung hari itu.

 

Masih jelas di ingatan saya, seberapa banyak saya ketakutan hari itu. Saya berharap jalan akan memanjang, hingga saya tidak akan pernah sampai ke rumahmu. Sebab, sepenggal kalimat yang tidak pernah ingin saya katakan sampai kapan pun, hari itu seperti ingin menembusi kepala saya. Saya hanya merasa bahwa saya tidak lagi sanggup menangguhnya.

 

Bahkan, setelah 2 tahun berlalu, rasa sakit -yang ditimbulkan ketika ingatan tentang hari itu datang- tidak pernah berkurang. Hujan tengah membadai di hati saya saat ini, sama seperti hari itu.

 

Terlepas dari seberapa banyak duka yang saya terima ketika bersamamu, saya memutuskan untuk menyimpan sebuah kenangan indah sebagai alasan bahwa saya harus melindungi kamu. Melindungi kamu dari segenap penderitaan yang telah kamu terima dan akan kamu terima jika terus bersama saya.

 

"Saya tidak pernah mencintai manusia melebihi saya mencintai kamu". Ingatlah itu!! Jadi, jika kamu mendapati dirimu menderita karena perbuatan saya, berpeganglah tanpa ragu pada kalimat itu.

 

Dan di ujung hari, kita bersama-sama melepas simpul perasaan kita dengan sebuah peluk. Dengan tangan yang basah oleh air matamu, aku melepasmu kekasihku. Aku melepasmu. Aku melepasmu. Pergilah yang jauh, jangan biarkan aku menoleh ke arahmu lagi. Jangan buat aku mengusap air matamu lagi. Jangan buat aku mengalami hari ini lagi.

Senin, 10 September 2012

Ulang Tahun


Aku mendengar hujan tengah menyanyikan lagu sendu di luar sana. Dan tetes-tetesanya yang terdengar jelas di telingaku mengingatkanku pada luka yang tidak berdarah sama sekali, tapi tidak juga mampu menyembuhkan diri. Seketika ada nyilu yang semu. Dan kita tidak perlu bicara itu, sebab aku, juga kamu sudah sama-sama tau.

Aku meraih kertas dan pulpen yang ada dijangkauanku. Aku ingin menulis amukan yang ada di kepalaku saat ini. Menjadi penggalan-penggalan carita yang menyeringaikan tawa atau senyum di bibirmu nanti. Karena, jika kita bertemu kelak, aku ingin kamu mengenaliku bahkan dari caraku bicara sekalipun.

Bau basah yang dibawa udara, membuatku semakin merindukanmu. Aku rindu bersua denganmu. Aku merindukan diriku yang lain. Aku merindukan aku yang bersemayam dalam dirimu. Aku rindu menatap jiwaku sendiri tanpa harus berkaca. Tapi keberadaanmu adalah satu-satunya kenyataan yang tidak bisa kusentuh, hingga hari ini.
****

Ketika jiwaku bersua dengan jiwamu, aku merasa seperti kita tengah mengurai simpul-simpul kusut selama ini. Simpul-simpul yang tercipta karena ketidakmampuan kita memahami apa yang diinginkan kehidupan dari kita. Dan kamu, membuat simpul-simpul itu terlepas helai demi helai. Kamu menjawab hal yang tidak ingin kujawab. Kamu mempertanyakan hal yang tidak pernah kutanyakan. Kamu menilik pada hal yang aku abaikan. Dan kamu mengabaikan hal yang justru kutatap lekat.

Kamulah cercah cahaya yang memberitahku bahwa kabut tebal yang mengungkungku selama ini tidak lebih hanya genangan air mata yang tidak pernah kutumpahkan. Tiba pada masa yang seharusnya, genangan itu mengaburkan pandanganku. Aku mareba-raba masa depan karena ketidakmampuanku memaafkan masa lalu. Dan kamu, dari balik dunia yang tidak bisa kusentuh, mengajarkanku bagaimana melunturkan kabut itu. Aku hanya perlu menangis untuk menyingkirkannya.

Kita dipertemukan di dimensi lain. Dimansi paralel. Tempat dimana jiwa-jiwa bertemu dan bersua semau mereka. Dan di antara jumlah yang tak terhingga itu, kamu menemukanku yang merapuh karena kehidupan kala itu. Menciut dihimpit penderitaan.

Jadilah kamu semacam tong sampah, sapu tangan, tisue, atau diari. Tempat di mana aku menumpahkan banyak hal yang tidak bisa kutumpahkan di dunia yang aku injak ini. Tentu saja karena alasan-alasan yang juga tidak bisa kusebutkan. Kamu mendengar isak, kamu mendengar serapah, juga jejal pertanyaan yang tidak diperuntukkan untukmu.

Dalam ketiadaanmu, kamu ada. Mengisi sela-sela kosong dari caritaku hidupku. Melengkapi kehilangan yang kualami. Menyembuhkan duka yang kuderita.
****

Terima kasih telah lahir ke dunia ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari semesta yang luas ini. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan jiwaku yang lain.

Tanpa lilin menyala yang siap disembur mati. Tanpa jabat tangan juga peluk hangat, Selamat Ulang Tahun Hikma. Aku telah mengirimkan doa, semoga kamu mendengar kabar baik setiap harinya. Semoga cinta yang sama besar dengan yang kamu berikan akan memantul kembali kepadamu dengan cara jauh lebih membahagiakan.

Minggu, 29 April 2012

Maaf yang belum terucap

Beberapa tahun lalu, aku mengabaikan banyak hal demi satu hal, yakni diriku sendiri. Aku memperjuangkan cintaku, mengejar kebahagiaan yang dijanjikan oleh orang asing yang kuanggap sebagai bagian dari diriku sendiri. Ketika terlalu sibuk memperjuangkan diri sendiri, aku mengabaikan banyak hal, termasuk keluargaku, masa depanku, teman-temanku, juga ambisiku. Segalanya mendadak menjadi "dia". Dia menjadi poros kehidupanku kala itu.

Kini, aku memanen sesal dari ego yang kutuai....

Jumat, 13 April 2012

Luka & Jeruk

Katanya vitamin C dapat membantu mempercepat penyembuhan luka, tapi mengapa luka hatiku tidak kunjung sembuh meski udah gak terhitung berapa kilo jeruk yang aku makan, berapa tandan pisang yang aku lahap, barapa botol pulpy orange yang aku tenggak, juga vitacimin.


Kadang, ngerasa ada letih yang tidak bisa diungkapkan karena memang gak tau juga bentuk letihnya kayak apa. Hanya saja, banyak kenganan yang berlalu-lalang di kepala kemudian mengantarkan sakit yang mendera membuat aku merasa ada yang salah dengan diriku, tapi tidak pernah tau bagaimana cara memperbaikinya. Itulah yang membuatku merasa letih sekali.

Rabu, 11 April 2012

Masa Lalu


Engkau duduk tertunduk di hadapanku. Ada ketakutan, kebimbangan juga kepasrahan. Kubaca itu dari bias matamu. Melaju, mungkin berlipat-lipat kali. Jantungku berdetak tak biasa. Seperti luruh semua kehidupan. Hingar-bingar menyepi. Terkubur kita dalam kalimat singkatmu. 

Kusandarkan kepalanya pada dadaku. Ia bisa rasakan betapa aku merasakan ketakutan yang sama. Suasana membeku dalam lelehan air mataku. Air matamu. Air mata kita. Ingin kuberi engkau senyum. Tapi semua menciut dalam lara yang tertumpah lewat sepenggal kalimatmu.

Masih dalam isak tangis, aku merengkuhmu erat. Beberapa detik lewat dalam kesedihan yang pekat.

"Lupakan kalimatku hari kemarin jika itu menjadi bimbangmu hari ini", kataku...






                                                                         *Potongan diary bulan Februari

Rabu, 04 April 2012

Maaf

Manusia, mahkluk paling sempurna di dunia ini saja tidak benar-benar sempurna. Selalu ada celah yang berkemungkinan besar melakukan salah. Meskipun terkadang, maaf tidak menyelesaikan masalah atau tidak mampu menghapus luka -lebih terkesan tidak berguna- tetap saja, sudah sepantasnya orang yang bersalah meminta maaf pada orang-orang yang mereka lukai. Entah prilaku keji macam apa yang hendak ditunjukkn oleh orang-orang yang "salah" namun tdk meminta maaf?


Ada orang yang benar-benar menyadari kesalahannya, kemudian meminta maaf dengan harapan MENGURANGI LUKA HATI orang yang ia sakiti. Ada sakit yang sama yang ia bebankan pada hatinya, dan ketika maaf tak pernah didapat, ia tak pernah berani memaafkan dirinya sendiri dengan mudah.

Ada juga orang yang menyadari kesalahannya, kemudian meminta maaf namun dengan tujuan MENGURANGI RASA BERSALAH yang ada di hatinya sendiri. Orang seperti ini mengucapkan maaf persis seperti menghembuskan karbon dioksida dari hidungnya. Ia merasa pantas memaafkan dirinya sendiri setelah ia meminta maaf pada orang yang ia sakiti telepas dari ia mendapatkan atau tidak maaf tersebut. Menurutku, orang-orang seperti ini, sebaiknya tidak usah meminta maaf, karena ia hanya akan menambah luka hati orang yang ia sakiti.

Ada juga orang yang menyadari kesalahannya, namun karena ia meletakkan egonya lebih tinggi dari tinggi badannnya, ia bahkan tidak pernah berfikir untuk meminta maaf. Baginya, mengulurkan tangan dan mengucapkan "maafkan aku" hanyalah perbuatan yang akan merendahkan harga dirinya. Padahal, justru ia terlihat seperti orang yang tidak punya harga diri sama sekali ketika ia berfikiran seperti itu.

Ada juga orang yang tidak pernah meminta maaf karena tidak pernah menyadari ada orang lain yang diam-diam membasahi punggu tangannya dengan air mata. Membekab tangisnya dalam bantal atau terisak di kamar mandi yang terkunci.

Ada juga orang yang menyadari kesalahannya tapi tidak pernah mengucapkan maaf. Namun ia menyimpan janji pada dirinya sendiri untuk meminta maaf dengan perbuatan yang lebih bermakna pada orang yang ia sakiti. Terkadang, perbuatan lebih mampu menghadirkan maaf yang bahkan tidak pernah dipinta sekalipun.

Melihat Kenangan

Ketika mendongak, bukan langit atau bintang yang ingin kuilihat. Aku justru ingin melihat kamu dalam segumpal kenangan yang mungkin akan berarak bersama awan dalam rupa yang tak tentu.

*semoga kita tidak lagi membicarakan rindu