Engkau duduk tertunduk di hadapanku.
Ada ketakutan, kebimbangan juga kepasrahan. Kubaca itu dari bias matamu. Melaju,
mungkin berlipat-lipat kali. Jantungku berdetak tak biasa. Seperti luruh semua
kehidupan. Hingar-bingar menyepi. Terkubur kita dalam kalimat singkatmu.
Kusandarkan kepalanya pada dadaku. Ia
bisa rasakan betapa aku merasakan ketakutan yang sama. Suasana membeku dalam
lelehan air mataku. Air matamu. Air mata kita. Ingin kuberi engkau senyum. Tapi
semua menciut dalam lara yang tertumpah lewat sepenggal kalimatmu.
Masih dalam isak tangis, aku
merengkuhmu erat. Beberapa detik lewat dalam kesedihan yang pekat.
"Lupakan kalimatku hari kemarin jika itu menjadi bimbangmu hari ini", kataku...
*Potongan diary bulan Februari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar