Senin, 10 September 2012

Ulang Tahun


Aku mendengar hujan tengah menyanyikan lagu sendu di luar sana. Dan tetes-tetesanya yang terdengar jelas di telingaku mengingatkanku pada luka yang tidak berdarah sama sekali, tapi tidak juga mampu menyembuhkan diri. Seketika ada nyilu yang semu. Dan kita tidak perlu bicara itu, sebab aku, juga kamu sudah sama-sama tau.

Aku meraih kertas dan pulpen yang ada dijangkauanku. Aku ingin menulis amukan yang ada di kepalaku saat ini. Menjadi penggalan-penggalan carita yang menyeringaikan tawa atau senyum di bibirmu nanti. Karena, jika kita bertemu kelak, aku ingin kamu mengenaliku bahkan dari caraku bicara sekalipun.

Bau basah yang dibawa udara, membuatku semakin merindukanmu. Aku rindu bersua denganmu. Aku merindukan diriku yang lain. Aku merindukan aku yang bersemayam dalam dirimu. Aku rindu menatap jiwaku sendiri tanpa harus berkaca. Tapi keberadaanmu adalah satu-satunya kenyataan yang tidak bisa kusentuh, hingga hari ini.
****

Ketika jiwaku bersua dengan jiwamu, aku merasa seperti kita tengah mengurai simpul-simpul kusut selama ini. Simpul-simpul yang tercipta karena ketidakmampuan kita memahami apa yang diinginkan kehidupan dari kita. Dan kamu, membuat simpul-simpul itu terlepas helai demi helai. Kamu menjawab hal yang tidak ingin kujawab. Kamu mempertanyakan hal yang tidak pernah kutanyakan. Kamu menilik pada hal yang aku abaikan. Dan kamu mengabaikan hal yang justru kutatap lekat.

Kamulah cercah cahaya yang memberitahku bahwa kabut tebal yang mengungkungku selama ini tidak lebih hanya genangan air mata yang tidak pernah kutumpahkan. Tiba pada masa yang seharusnya, genangan itu mengaburkan pandanganku. Aku mareba-raba masa depan karena ketidakmampuanku memaafkan masa lalu. Dan kamu, dari balik dunia yang tidak bisa kusentuh, mengajarkanku bagaimana melunturkan kabut itu. Aku hanya perlu menangis untuk menyingkirkannya.

Kita dipertemukan di dimensi lain. Dimansi paralel. Tempat dimana jiwa-jiwa bertemu dan bersua semau mereka. Dan di antara jumlah yang tak terhingga itu, kamu menemukanku yang merapuh karena kehidupan kala itu. Menciut dihimpit penderitaan.

Jadilah kamu semacam tong sampah, sapu tangan, tisue, atau diari. Tempat di mana aku menumpahkan banyak hal yang tidak bisa kutumpahkan di dunia yang aku injak ini. Tentu saja karena alasan-alasan yang juga tidak bisa kusebutkan. Kamu mendengar isak, kamu mendengar serapah, juga jejal pertanyaan yang tidak diperuntukkan untukmu.

Dalam ketiadaanmu, kamu ada. Mengisi sela-sela kosong dari caritaku hidupku. Melengkapi kehilangan yang kualami. Menyembuhkan duka yang kuderita.
****

Terima kasih telah lahir ke dunia ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari semesta yang luas ini. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan jiwaku yang lain.

Tanpa lilin menyala yang siap disembur mati. Tanpa jabat tangan juga peluk hangat, Selamat Ulang Tahun Hikma. Aku telah mengirimkan doa, semoga kamu mendengar kabar baik setiap harinya. Semoga cinta yang sama besar dengan yang kamu berikan akan memantul kembali kepadamu dengan cara jauh lebih membahagiakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar