Sabtu, 26 Maret 2011

Fransiskus Budang


Kunamai kamu "pagi" karena kamulah alasanku terbangun setiap kali [masih]...

(26 Maret 2011)

Rabu, 03 November 2010

pemetaan privasi


Hari ini ada gempa susulan yang datang setelah gempa-gempa yang sebelumnya juga menggempakan hati saya. Efeknya berjangkit-jangki seperti penyakit. Dari sahabat yang satu merambat ke sahabat yang satu lagi. Mungkin juga nanti akan menggait sahabat saya yang lainnya lagi.

Kemarin, salah seorang sahabat saya mengklaim bahwa dia berhak atas privasi saya. Dia dan beberapa sahabatnya yang tidak pernah menjadi sahabat saya menjadikan privasi saya sebagai bahan perbincangan yang terdengar begitu layak di halaman kampus kami tercinta. Mungkin itu terjadi di luar kendali. Karena kita mempunyai takaran yang tidak pasti untuk kata “layak” itu.

Andai batas privasi seperti batas wilayah, mungkin saya akan memetakannya agar kalian tahu apa yang menurut saya layak untuk dijadikan bahan pembicaraan kalian di halaman kampus dan apa yang hanya layak dibicarakan seorang sahabat di kamar dengan suara setengah berbisik. Tapi urusan privasi tidak sama dengan urusan wilayah. Batasan pantas dan tidak pantasnya ditakar oleh masing-masing individu dengan takaran masing-masing pula. Yang pada akhirnya membuat kita tidak berada pada satu titik temu.

Ketika memutuskan datang sebagai sahabat saya, maka utuhkanlah dirimu sebagai sahabat saya. Bukan sahabat dari sahabat kamu yang lainnya. Ceritakanlah apa yang menurut kamu layak untuk saya tahu dan beritahulah apa yang memang ingin saya tahu. Jika masih terbagi, lebih baik kembali dan jangan berusaha menyusup dalam privasi saya. Dan kamu memutuskan untuk kembali sebagai sahabat dari sahabat kamu yang lain. Membiarkan otak saya mengkonstruksikan cerita kamu yang hanya sebagian dengan cara saya sendiri. Dengan kondisi setengah memaksa saya meminta diberi tahu, tapi kamu bersikukuh membiarkan saya menyelesaikan sendiri ceritanya. Kamu berkata, “silahkan”.

Ketika hasil konstruksi saya mengakibatkan beberapa orang merasa dikorbankan, kamu datang dengan niat mengklarifikasi. Namun menempatkan saya sebagai pihak yang bersalah dan kamu pahlawan untuk saya dan untuk sahabat-sahabat kamu yang lainnya. Kamu ingin menyabet dua penghargaan sekaligus. Tapi pernahkan kamu tahu, bahwa ada kalanya kata “terlambat” itu benar adanya.

Ketika keadaan semakin buram, saya memilih untuk diam. Diam untuk banyak hal. Ketika diam juga menjadi sebuah pilihan yang salah bagi kalian, coba beri saya solusi lain yang tidak hanya membuat kalian merasa baik. Tapi juga saya. Saya tidak mungkin memberi makan orang yang kelaparan sedang saya juga hampir sekarat kerana kelaparan. Saya tidak mungkin menutupi lobang yang ada di hati kalian jika hati saya juga punya lobang menganga. Karena saya juga membutuhkan jarak yang bisa saya pakai untuk menata kembali apa yang sedang berantakan sekarang. Jadi, tolong jangan meletakkan tanggung jawab untuk menjaga hati semua orang di bahu saya. Saya sama rentanya dengan kalian.

Dan hari ini, gempa susulan itu datang. Gempa yang mengiringi gempa-gempa lainnya yang juga menggempakan hati saya. Gempa itu datang dari sahabat saya yang lainnya lagi. Dia muncul dengan niat untuk manjadi penengah. Penengah perselisihan yang terjadi karena kesalahan memetakan batasan privasi. Jika ingin menjadi penengah, maka pastikanlah kamu benar-benar berada di tengah-tengah. Jika pada akhirnya kamu memutuskan untuk menepi, maka carilah tepi yang tidak menempatkan kamu pada posisi memihak.

Namun, kata tengah yang sahabat saya sandang ketika dia datang juga tidak memberikan penengahan bagi kami. Mungkin salah saya yang sudah terlanjur tidak peduli hingga Dia juga memutuskan untuk menepi. Menepi di posisi yang berlawanan dengan saya. Saya mengantar kepergiannya dengan air mata diam saya. Bukan tidak ingin mencegah kepergiannya, tapi mungkin jarak akan membuat kami sama-sama berintrospeksi diri. Karena celah akan dibutuhkan jika kita terlalu padat. Jarak juga dibutuhkan ketika kita mulai merasa di giring. Bukankah tujuan utama kita membina persahabatan ini bukan untuk menggiring atau digiring tapi untuk berjalan beriring.

Tanpa mereka sadari, mereka meletakkan saya pada posisi yang paling berhak untuk disalahi. Tidak lain alasan yang dipakai, "saya tidak mengerti, saya tidak menghargai, saya egois, saya kurang toleransi." Mungkin benar begitu adanya. Tapi mereka lupa bahwa begitu jelas perbedaan antara "pertanyaan dan pernyataan". pertanyaan membutuhkan jawaban, sedangkan pernyataan memberi jawaban.

Saya berharap tulisan ini bisa menjadi dinding bagi persahabatan lain dari virus privasi. Karena kadang mereka datang dengan tameng kasih sayang sehingga begitu sulit untuk dideteksi. Kemudian menginveksi.

Selasa, 02 November 2010

saya memberinya nama "cara"


Kemarin, mendadak saya merasa menjadi manusia yang paling membutuhkan sinyal hape. Ada rongrongan di hati saya yang meminta untuk dipuaskan. Saya mencoba mengangkat-ngangkat hape setinggi yang saya mampu. Bahkan sedikit berjingkat-jingkat. Berharap sebalok sinyal terdampar di layar hape saya.

Ketika sinyal tidak kunjung bertamu, ada sesal yang diam-diam menyelinap di hati saya. Seharusnya saya membungkus tawamu dalam plastik transparan kemarin. jadi, saya bisa menempelkannya di daun telinga saya jika saya sedang rindu akut seperti sekarangi ini. Agar saya tidak perlu mengusik ketenanganmu hanya untuk kesenangan saya sendiri.

Telpon tersambung setelah saya mencoba berkali-kali menekan tombol panggil dengan sinyal sekarat yang saya dapat setelah memijakkan kaki ke lantai dua rumah warga yang saya tumpangi. Namun, kamu sepi. Tidak ada jawaban. Kemudian saya memutuskan untuk menangis. Mungkin memang saya harus menangis agar rongrongan ini mencair. Bahkan memang saya harus menangis agar rindu ini tidak menjadi salju yang kemudian menjadikan hati saya beku.

Saya jadi ingat, minggu lalu kamu menghabiskan waktu selama dua jam untuk memadati telinga saya dengan kalimat-kalimat yang tidak tau mau saya apakan. Butuh waktu dua jam juga setelah telpon terputus untuk saya memilah dan memilih kalimat-kalimat kamu. Ada yang bisa saya simpan dalam rak nasehat. Ada juga yang bisa saya masukkan dalam rak vonis. Ada yang saya buang ke tong sampah. Namun ada yang tanpa kategori.

“Saya benci air mata. Saya muak mendengar kamu menangis”.

Itu kalimat yang saya tidak tau mau dikategorikan apa di rak perasaan saya. Mungkin kamu ingin saya membeli topeng untuk menutupi sendu saya dari banyak mata. Memang itu menyelesaikan sebuah masalah, tapi saya akan mendapat masalah baru. Saya harus menyiapkan medan yang luas untuk tempat saya berperang dengan perasaan saya sendiri. Saya memang akan kelihatan baik di luar, tapi saya menabung buruk itu di dalam.

Dan yang juga tidak bisa saya abaikan begitu saja adalah vonismu. Kamu bilang saya sengaja menenggelamkan diri saya dalam keberantakan. Membiarkan hidup saya teracak-acak seperti pazel yang berserak. Kamu seolah-olah tidak tau sebarapa dalam kamu menenggelamkan saya dalam kesedihan ketika kamu memutuskan untuk berpisah tanpa bertanya akan jadi apa saya tanpa kamu. Tidak mudah menerima sebuah berpisahan meski pertemuan dan perpisahan adalah kembar siam yang tidak mungkin di pisahkan. Saya merasa seperti dipaksa untuk mengubah segalanya secara tiba-tiba.

Dan malam ini, saya di sini. Menepi di desa di pinggir kota khatulistiwa ini. Bersama rombongan kecil yang sibuk menenteng buku kecil. Menghimpun data untuk future mereka. Saya juga melakukan hal yang sama. Menghabiskan malam minggu saya dengan hal baru yang membuat saya sibuk dan berharap saya tidak sempat memikirkan kamu. Saya ingin kamu juga tahu bahwa saya telah berusaha. Bahkan sangat berusaha untuk membuat semuanya kembali membaik. Tapi sejauh ini, saya selalu bersetubuh dengan kata “percuma”.

Karena baik dalam takaran kamu dan saya berbeda. Kamu selalu mengartikan baik itu adalah mengembalikan keadaan semula. Seperti sebelum terjadinya perpisahan. Sedangkan saya, baik bagi saya adalah ketika saya bisa menikmati setiap tawa juga isak tangis yang ada. Setiap rindu yang selalu mengajak saya bercengkrama dengan masa lalu yang pada akhirnya akan mendamparkan saya dalam berjam-jam kesedihan. Beruntung jika saya tertidur karena letih menangis. Jika tidak, maka saya akan terjaga hingga dini hari. Merasakan perih yang tak terhingga di hati saya. Perih yang menggumpal dan memadati hati saya hingga terjejal sesak.

****

Mereka bilang untuk memulai hal baru, saya harus melupakan hal lama. Saya menolak untuk mengatakan setuju. Saya merasa saya tidak perlu melupakan kamu hanya untuk terus melangkah maju. Kerena saya akan melewatkan waktu yang percuma jika saya memaksa untuk melakukan itu. saya yang tau seberapa kokoh kamu mendekam di ingatan saya.

Saya tidak membutuhkan obat yang instan. Saya hanya perlu berdamai dengan dengan keadaan. Dengan perasaan saya sendiri. Dan untuk berdamai dengan keadaan juga perasaan, hal pertama yang harus saya lakukan adalah menyuntikkan rasa ikhlas dalam dosis yang tinggi ke hati saya. Tapi dosis tinggi yang diberikan secara sekaligus akan merusak saraf saya. Saya khawatir akan kelebihan dosis. Jadi, biarkan saya melakukannya pelan-pelan.

Kamu boleh membuat keputusan sepihak untuk ke luar dari hidup saya. Terserah juga kamu ingin memakai alasan apa untuk pergi. Karena kita beda, karena kamu capek atau karena ada ranting baru yang bisa kamu singgahi tanpa harus terbebani dengan caci maki. Tapi kamu tidak bisa sepihak mengatur hati saya. Menyamakan urusan kenangan dan kebiasaan dengan urusan file-file yang tersimpan di memori hape. Ketika keberadaan mereka mulai mengganggu, kita tinggal tekan tombol delete. Selesai. Tidak sesederhana itu.

Saya telah menyerahkan semuanya pada perputaran waktu. Berkiblat pada pepatah klasik yang menurut saya ampuh. “Waktu akan membuat semuanya membaik.” Selebar apapun luka, waktu akan selalu mampu menjadi benang perekat untuk kembali membuatnya tertutup meski tidak sempurna.

Dan tentang keberadaan saya di sini, di desa kecil yang terpencil, kamu boleh memberinya lebel apa saja. Jika ingin menyamakan dengan pendapat mereka juga tidak apa-apa. Silahkan berpendapat saya lari, saya menghindar, saya takut melihat kenyataan. Tapi saya memberinya nama “cara”. Ini hanya cara.

Silahkan kamu menyalahkan cara yang saya gunakan untuk mencari ketenangan. Saya juga akan mempersilahkan jika kamu ingin memvonis saya dengan kata apa saja. Silahkan saja. Sarena cukup saya saja yang tahu usaha saya untuk memperbaiki keadaan setelah kepergiaan kamu.

Kamis, 28 Oktober 2010

menyelami sejarah



persetan dengan hidup yang kamu janjikan.

persetan dengan kenangan yang membuatku berantakan.
persetan dengan perbedaan.
kamu yang mendorong saya untuk menjauh, ingat itu!!!!

saya tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kamu. bahkan udara saja tidak mampu mengantarkan pikiran itu ke otak saya. meski setiap hari saya berhadapan dengan dengan mereka yang menentang kita hanya karena saya seorang "muslim" dan kamu seorang "kristiani". berkelut dalam tatapan menghakimi, kalimat mencaci maki dan tingkah menusuk hati. pernahkan saya berpikir untuk pergi? tidak Fransiskus Budang. tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk pergi dan membiarkan kamu sendiri.

kamu yang mendorong saya untuk manjauh, ingat itu....!!!

kamu yang lebih tahu seberapa saya telah berjuang untuk menutup pertualangan ini dengan akhir yang kita rencanakan. kamu yang lebih tahu seberapa cinta kamu telah beranak-pinak dalam sel-sel otak saya. kamu yang lebih tahu apa saja yang telah saya dan kamu lewati untuk sampai pada kata toleransi sepenuh hati.

kamu tentu ingat, saya, wantia yang kamu pandang manja ini pernah bekerja sebagai SPG hanya untuk meyakinkan kamu bahwa saya bukan wanita yang hanya bisa di ajak becanda, bukan wanita yang hanya bisa dirangkul saat bahagia, bukan wanita yang hanya dibutuhkan saat kamu tertawa, tapi saya adalah wanita yang cukup untuk merangkul kamu lengkap dengan segala duka.

sampai pada puncaknya, masa depan saya sebagai mahasiswa juga saya gadaikan hanya untuk meyakinkan kamu bahwa saya masih berpegang teguh pada kata "selamanya". meski pada akhirnya tetap sia-sia. kamu bukan putih, kamu juga bukan kelam. tapi kamu abu-abu. kamu ingin bahagia tanpa harus mengecap mederita. kamu ingin tetap hidup dalam kasih sayang saya tanpa harus terbebani dengan hubungan yang ditentang hanya karena saya muslim dan kamu kristiani. apa lagi warna yang cocok untuk melambangkan kamu kalau bukan "abu-abu"?

dan sejarah yang baru saja saya lintasi tadi telah membuat saya benar-benar mengerti bahwa saya telah berjuang terlalu keras. kini waktunya untuk berhenti dan mengistirahatkan diri. duduk menikmati secangkir kapucino yang genit. atau kopi tubruk yang lugu.

dan cerita tentang kamu, akan menjadi lelucon kecil di hari tua bersama anak cucu saya menghabiskan senja....!!!!

Senin, 25 Oktober 2010

antariksa di hati kita


Aku merasa aku harus menangis agar sesuatu yang mengendap di hatiKu mencair. Agar air di sungai-sungai tempat perasaanku dialirkan tetap bergerak dan membawanya lepas ke lautan.

Simpan di pikiranmu, ini kenangan. Tolong di bingkai dengan masa agar kamu tidak pernah amnesia!!!

kamu pernah menghadiahkan bumi di otakku. Bumi dengan kehidupan yang sempurna. Bumi yang di peluk gravitasi yang menjadikannya teratur. Bumi yang ungu di waktu pagi, bumi yang cemrlang dikala siang, bumi yang jingga dikala senja, dan bumi yang temaram dikala malam. Bumi yang hijau tanpa pembalakan liar, sejuk tanpa badai dan banjir, hangat tanpa global warming. Bumi itu mengakar di sel-sel otakku. Tapi itu dulu. dulu sekali. Dulu yang tidak pernah menjadi dulu bagiku.


Sesekali, batu-batu angkasa, nukleus mengintai. Berencana membakar bumi dalam ledakan yang tak terduga. Menjilatnya dengan api yang memusnahkan. Tapi perasaan sepemahaman kita membentuk sebuah medan atmosfer yang kuat. Mengubah batu-batu itu menjadi cahaya berekor.

Dari kejauhan, manusia menatapnya dengan gembira tanpa pernah tau seberapa sakitnya kita saat atmosfer mengubah nukleus menjadi bola gas dan debu bercahaya yang menjadi ekor bagi komet-komet yang datang untuk menghancurkan. Seperti kerang yang mengerang kesakitan saat pasir melukainya dan mengubahnya menjadi muatiar yang bercahaya. Itu karena kita bersama.

Tapi bulan lalu, kamu melepas bumi tanpa gravitasi. Tanpa ikatan yang membuatnya teratur. Bumi mengapung di antariksa yang hampa udara. Seperti buih-buih yang tidak pernah tau lautan akan membawanya ke mana.

Apalagi alasannya selain kata “perbedaan”. sebuah kata yang tidak pernah bisa ku maknai secara sempurna, tapi begitu sukses membuatku berantakan. Pernah juga ku maknai kata itu dengan “perjuangan”. Tentu saja pantas kata itu kuberi makna perjuangan. Kamu sendiri tahu, bagaimana kita menapaki hidup agar kita bisa sampai pada kata sepemahaman, sepengertian. Tapi bulan lalu, saat kamu memutuskan untuk berhenti menggenggam bumi dengan gravitasi, aku memutuskan untuk mengubah makna kata itu menjadi “jarak”. Jarak yang tidak bisa di ukur dengan apapun, jarak yang tidak bisa ditaklukkan dengan cara bagaimana pun.

Mendadak cuaca di hatiku menjadi tidak menentu. semua kerena gravitasi itu. Hujan turun sembarangan waktu. Matahari bermunculan kapan saja. Bulan datang dan pergi sesukanya. Gemintang menghilang. Kadang juga mereka turun bersamaan. Dan petir-petir menjilat-jilat bumi. Guruh-gemuruh meraung-raung melantakan telinga. Kemudian bumi ditinggal sepi. Sendiri tanpa mereka yang membuanya berarti. Singkatnya, AKU BERANTAKAN.

Malam bagi dunia malah terasa seperti sore bagiku, dan pagi bagi dunia menjadi seperti subuh bagiku. Aku tidak pernah mejumpai jam sarapan lagi, sarapanku selalu merangkap makan siang itupun kalau sempat. Jika tidak, semuanya aku jamakkan saja menjadi makan malam.

Ini karena gravitasi. Ikatan yang tak nyata kelihatannya, tapi begitu terasa keberadaanya. Membuat cuaca jadi tidak menentu. Mengutuk khatulistiwa menjadi antartika. tempat kenangan tentangmu membeku dan membatu. tergeletak rapi, juga bergelantungan berserakan di dinding-dinding hatiku. Nampak klasik memang, tapi tidak pernah memudar. Kadang aku tersenyum dibuatnya. Tapi kadang juga aku menjadi sesunggukkan, terisak bahkan meraung seperti gemuruh guruh yang senantiasa ada saat hujan jatuh dari awan-awan pekat.

Sabtu, 23 Oktober 2010

menepi

Mulai hari ini, aku adalah cermin yang akan memantulkan bayangmu. Jiwaku sudah telalu lusuh untuk membingkai semuanya menjadi indah. Hatiku, bukan hati sempurna yang mampu menetralisir semua racun. Aku juga punya rasa terluka yang kadang kala menyeruak, namun sirna saat kita bertatap muka.

Ketika kau datang dengan penghianatan dan kebohongan, bekali-kali. aku harus menjadi cermin yang berkali-kali pula memantulkan bayang kesetiaan dan kejujuran. Melahirkan maaf dari hati yang mengerang kesakitan. Membangun kepercayaan yang sering sekali porak-poranda dan terasa mencekik karena tingkahmu. Tapi pada akhirnya, tetap tidak berharga di matamu.

Kamu lebih sering melirik bulan dengan sinar yang cemerlang. Yang terang dan begitu mudah ditangkap mata telanjang. Sedangkan aku, hanya titik putih di antara ribuan titik-titik putih lainnya di kelam malam. Bercahaya tapi kadang tak bisa ditangkap kornea. Redupku kadang membuatmu lupa bahwa aku ada.

Tapi pernahkan kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Tak peduli sedang musim apa. Kemarau atau hujan di hatimu tidak pernah membuatku pergi. Aku tetap bersinar dengan cahaya yang apa adanya. Terus-menerus dan tanpa pernah berpikir untuk berhenti dan pergi meninggalkanmu sendiri. Cahayaku memang kerdil, tapi datang dari hati bukan karena pantulan dari benda lain layaknya bulan.

Ketika matahari bersembunyi di upuk barat, dan bulan sedang tidak musim bercahaya, Ketika satu per satu kebahagiaan meninggalkanmu, Kamu menoleh ke arahku. Mencari tempat untuk menyandarkan kepala dan hatimu yang terasa lelah dengan fananya kehidupan yang engkau tapaki. Dan ketika itu terjadi, pernahkah aku lari? Pernahkan aku mengeluh? Pernahkan aku menyalahkan? Bahkan kadang aku menjadi lupa bahwa aku begitu redup dan juga perlu cahaya. Tapi demi terangmu, kadang kubirkan semua sinarku berlabuh di matamu agar aku bisa melihat senyummu. Agar aku bisa menghapus laramu.

Meski kadang, bahagiamu tidak menjadi bahagiaku, tapi sedihmu selalu menjadi sedihku. Ada rasa sakit yang sama ketika aku melihat sakitmu. Kamu tidak pernah tahu betapa aku bahagia saat aku mampu menjadi pengusap air matamu. Menjadi tempatmu berbagi saat seluruh dunia terasa meninggalkanmu sendiri. Ada haru yang meretas hatiku.

Tapi ketika pagi datang, dan kamu menemukan cahaya yang lebih nyata, lebih besar, lebih cemerlang. Kamu kembali melupakanku. Meninggalkan aku yang tetap dengan cahaya redupku. Tanpa pernah berpikir apa yang paling aku inginkan. Dan semua itu tidak terjadi hanya satu kali, tapi berkali-berkali. Bahkan terlampau banyak jumlahnya untuk ku tulis dalam bilangan bulat.

Aku bukan manusia penggemar nyanyian burung yang rela mengurung burung-burung itu dalam sangkar hanya agar aku tetap mendengar nyanyian meraka. Atau pecinta ikan berwarana yang rela membirkan mereka terperangkap dalam kaca hanya agar aku tetap dapat menikmati indahnya. Aku selalu menjadikanmu angin, yang pergi tanpa pernah bisa di cegah dan kembali bila kau merasa lelah.

Ku pikir, semua itu bisa meluluhkan hatimu. Setidaknya, membuat kamu sedikit berpikir bahwa perlu cara yang baik untuk mengakhiri apa yang telah kita mulai. Ternyata tidak, semuanya menjadi debu ketika kamu menemukan sesuatu yang menurutmu jauh melampai aku. Bahkan, cahaya itu telah kamu peluk sebelum kamu memutuskan untuk melepasku selamanya. Dan itu baru aku ketahui setelah beberapa hari perpisahan itu terjadi. Padahal, yang paling di ingat dari sebuah perpisahan bukanlah rasa kehilangan tapi bagaimana perpisahan itu terjadi.

Kini, jiwa ini sudah terlalu letih. Renta termakan masa yang terasa percuma. Silahkan kamu bermandi cahaya yang baru kamu temukan. Semoga kemilaunya tidak pernah mampu membuatmu melirik cahaya lain.

Aku hanya akan menjadi cermin yang memantulkan bayangmu. Ketika mau datang dengan senyuman, makan kebahagiaanlah yang akan kamu lihat. Ketika kamu datang dengan air mata, maka kesedihanlah yang akan kamu nikmati.

Kamis, 21 Oktober 2010

jamur-jamur bersemantik

“Perubahan makna kata”

Ku pelajari frasa itu itu sejak aku masih duduk di bangku yang mengharuskanku berseragam putih biru. Kemarin aku juga mempelajarinya saat aku duduk di bangku yang tidak mengharuskan aku mengenakan seragam warna apapun meski pelajaran itu juga telah di ulang pada saat aku duduk di bangku yang mengharuskanku mengenakan seragama putih abu-abu.

Dan sekarang, hari ini, detik ini, saat aku duduk bersama beberapa manusia yang menggambarkan diri mereka seperti jamur musim hujan penghujung tahun. Tumbuh tanpa pernah bisa dicegah. Jangankan Fungiderm yang kemasannya hanya sebesar jari telunjukku, atau Kalfanax yang kemasannya sebesar ibu jari kakiku, pestisida dengan segala merek yang kemasannya sebesar lengan atasku pun tidak akan mempu menghambat pertumbuhan mereka. Mereka adalah jamur anti pembasmi. Mereka menjamuri otakku dengan tawa lewat makian sekelas comberan yang terasa seperti canda. Dan sekarang, hari ini, detik ini, saat bersama mereka, aku di ajarkan kembali tentang “perubahan makna kata”. Pelajaran yang pernah aku pelajari saat aku masih duduk di bangku yang mengharuskanku berseragam putih biru, pelajaran yang kemarin juga aku pelajari saat aku duduk di bangku yang tidak mengharuskan aku mengenakan seragam warna apapun meski pelajaran itu juga telah di ulang pada saat aku duduk di bangku yang mengharuskan aku mengenakan seragam putih abu-abu.

Namora*
Itu kata yang sedang aku bicarakan. Kata yang sedang mengalami “perubahan makan kata”. Seingatku dulu, bukan seingatku, tapi memang benar-benar nyata di ingatanku, Namora adalah kata sakral yang biasa kutulis saat aku hendak beranjak tidur. Kata sakral yang aku adopsi dari Portugis dan hanya kuperuntukan untuk kamu. Untuk menutup harimu.

“Mat mlam Namoraku trkasih.
Q titip rindu dlm selimut yang hangatkn tidurmu.”
To: Uju Q
Date: tahun-tahun setelah Februari

Itu mantra yang selalu aku tulis sebelum aku terlelap dalam kantuk yang dikirim Pencipta untuk mengistirahatkan tubuh juga perasaanku. Kini kata itu mengalami “perubahan makna kata”. Seperti halnya kata-kata yang lain, “perubahan makna kata” Namora juga dilatarbelakangi perubahan kebiasaan dan perubahan keadaan.

Jika dulu kata itu biasa kutulis dan kusimpan dalam inbox HP-mu, kini kata itu kutulis pada status FB-ku. Perubahan Kebiasaan menulis itu juga dilatarbelakangi oleh perubahan keadaan. Dan perubahan keadaan juga dilatarbelakangi oleh perubahan status.

Ketika keadaan berubah, aku mendadak merasa tidak punya hak lagi untuk menulis kata itu dan menyimpanya di inbox HP-mu. Perubahan keadaan yang didasari atas keputusanmu untuk mengubah status hubungan kita dari berpacaran menjadi berpisah. Tapi kamu belum mampu mengubah ritual sebelum tidurku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengalihkan ritual itu dari HP ke FB.

Dan mereka yang menamai diri mereka jamur di musim hujan penghujung tahun benar-benar menjelma menjadi jamur. Tumbuh tanpa pernah bisa dicegah di statusku. Dimulai dari makian terhalus dan mengundang tawa, hingga makian tekasar yang juga masih mampu mengundang tawa, mereka mengajariku pelajaran “perubahan makna kata” itu. kata “Namora”. Kata yang sedang kita bicarakan.

“Saya curiga, jgn2 selama ini namora itu….patung bersutra merah….”
Itu awal perubahan makna kata itu.
Kata yang semula kupakai untuk menyapamu dalam sebuah ritual. Ritual sebelum tidur. Kini kata itu menjadi kata yang diucapkan dibanyak waktu. Kadang kepagian, kadang juga kesiangan, kadang mejelang dini hari. Tapi bukankah kata itu telah mengalami “perubahan makna kata”, jadi sah-sah saja jika kata itu juga mengalami perubahan waktu penggunaannya.

Kata Namora yang kuadopsi dari Portugis yang hanya kuperuntukkan untuk kamu kini mengalami “perubahan makna kata” kerena perubahan kebiasaan dan juga berubahaan keadaan yang dilatarbelakangi oleh perubahan status kita dari berpacaran menjadi berpisah. Kata yang semula berarti kekasih kini mengalami perubahan makna menjadi berhala. Berhala bersutra merah yang setinggi pinggangku di pelataran parkir sebuah rumah adat. Mereka memanggil berhala itu dengan sebutan Namora untuk “memperhalus bahasa”. Akan sangat berbahaya jika secara terang-terangan mereka menyebut patung itu berhala sedang orang-orang yang mengunjungi rumah adat itu menjadikanya penyelamat. Tempat mereka meminta beberapa hal yang mereka anggap Tuhan tidak mampu memberikannya. Bukan mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia namanya jika kami tidak bisa bermain dengan kata-kata.

Jangan tersinggung Namoraku terkasih, mereka adalah jamur yang telah menjamuri otakku dengan tawa ketika kamu memutuskan untuk pergi dan menenggelamkanku dalam kesedihan yang menghancurkan. Meninggalkanku dalam hari-hari dengan kesedihan yang sempurna untuk membunuhku perlahan. Aku masih menyimpan kalimatmu, “Sedihku akan menjadi sedihmu juga”. Jika “perubahan makna kata” itu bisa mengundang tawaku, itu artinya perubahan makna kata itu juga harus mampu mengudang tawamu. Atau paling tidak tawaku mampu mengundang senyummu.

Tapi “perubahan makna kata” yang mereka ajarkan padaku tidak mampu mengubah kebiasaanku Namoraku. Tidak juga mampu mengubah perasaanku. Tidak juga mampu membuatku berhenti berpikir bahwa kamu adalah Namoraku. NAMORA TERKASIH yang aku KASIHI dengan KASIH yang TIDAK PERNAH GAGAL meski kini kita diterpa badai perpisahan yang muncul atas nama PERBEDAAN.