Senin, 25 Oktober 2010

antariksa di hati kita


Aku merasa aku harus menangis agar sesuatu yang mengendap di hatiKu mencair. Agar air di sungai-sungai tempat perasaanku dialirkan tetap bergerak dan membawanya lepas ke lautan.

Simpan di pikiranmu, ini kenangan. Tolong di bingkai dengan masa agar kamu tidak pernah amnesia!!!

kamu pernah menghadiahkan bumi di otakku. Bumi dengan kehidupan yang sempurna. Bumi yang di peluk gravitasi yang menjadikannya teratur. Bumi yang ungu di waktu pagi, bumi yang cemrlang dikala siang, bumi yang jingga dikala senja, dan bumi yang temaram dikala malam. Bumi yang hijau tanpa pembalakan liar, sejuk tanpa badai dan banjir, hangat tanpa global warming. Bumi itu mengakar di sel-sel otakku. Tapi itu dulu. dulu sekali. Dulu yang tidak pernah menjadi dulu bagiku.


Sesekali, batu-batu angkasa, nukleus mengintai. Berencana membakar bumi dalam ledakan yang tak terduga. Menjilatnya dengan api yang memusnahkan. Tapi perasaan sepemahaman kita membentuk sebuah medan atmosfer yang kuat. Mengubah batu-batu itu menjadi cahaya berekor.

Dari kejauhan, manusia menatapnya dengan gembira tanpa pernah tau seberapa sakitnya kita saat atmosfer mengubah nukleus menjadi bola gas dan debu bercahaya yang menjadi ekor bagi komet-komet yang datang untuk menghancurkan. Seperti kerang yang mengerang kesakitan saat pasir melukainya dan mengubahnya menjadi muatiar yang bercahaya. Itu karena kita bersama.

Tapi bulan lalu, kamu melepas bumi tanpa gravitasi. Tanpa ikatan yang membuatnya teratur. Bumi mengapung di antariksa yang hampa udara. Seperti buih-buih yang tidak pernah tau lautan akan membawanya ke mana.

Apalagi alasannya selain kata “perbedaan”. sebuah kata yang tidak pernah bisa ku maknai secara sempurna, tapi begitu sukses membuatku berantakan. Pernah juga ku maknai kata itu dengan “perjuangan”. Tentu saja pantas kata itu kuberi makna perjuangan. Kamu sendiri tahu, bagaimana kita menapaki hidup agar kita bisa sampai pada kata sepemahaman, sepengertian. Tapi bulan lalu, saat kamu memutuskan untuk berhenti menggenggam bumi dengan gravitasi, aku memutuskan untuk mengubah makna kata itu menjadi “jarak”. Jarak yang tidak bisa di ukur dengan apapun, jarak yang tidak bisa ditaklukkan dengan cara bagaimana pun.

Mendadak cuaca di hatiku menjadi tidak menentu. semua kerena gravitasi itu. Hujan turun sembarangan waktu. Matahari bermunculan kapan saja. Bulan datang dan pergi sesukanya. Gemintang menghilang. Kadang juga mereka turun bersamaan. Dan petir-petir menjilat-jilat bumi. Guruh-gemuruh meraung-raung melantakan telinga. Kemudian bumi ditinggal sepi. Sendiri tanpa mereka yang membuanya berarti. Singkatnya, AKU BERANTAKAN.

Malam bagi dunia malah terasa seperti sore bagiku, dan pagi bagi dunia menjadi seperti subuh bagiku. Aku tidak pernah mejumpai jam sarapan lagi, sarapanku selalu merangkap makan siang itupun kalau sempat. Jika tidak, semuanya aku jamakkan saja menjadi makan malam.

Ini karena gravitasi. Ikatan yang tak nyata kelihatannya, tapi begitu terasa keberadaanya. Membuat cuaca jadi tidak menentu. Mengutuk khatulistiwa menjadi antartika. tempat kenangan tentangmu membeku dan membatu. tergeletak rapi, juga bergelantungan berserakan di dinding-dinding hatiku. Nampak klasik memang, tapi tidak pernah memudar. Kadang aku tersenyum dibuatnya. Tapi kadang juga aku menjadi sesunggukkan, terisak bahkan meraung seperti gemuruh guruh yang senantiasa ada saat hujan jatuh dari awan-awan pekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar