“Perubahan makna kata”
Ku pelajari frasa itu itu sejak aku masih duduk di bangku yang mengharuskanku berseragam putih biru. Kemarin aku juga mempelajarinya saat aku duduk di bangku yang tidak mengharuskan aku mengenakan seragam warna apapun meski pelajaran itu juga telah di ulang pada saat aku duduk di bangku yang mengharuskanku mengenakan seragama putih abu-abu.
Dan sekarang, hari ini, detik ini, saat aku duduk bersama beberapa manusia yang menggambarkan diri mereka seperti jamur musim hujan penghujung tahun. Tumbuh tanpa pernah bisa dicegah. Jangankan Fungiderm yang kemasannya hanya sebesar jari telunjukku, atau Kalfanax yang kemasannya sebesar ibu jari kakiku, pestisida dengan segala merek yang kemasannya sebesar lengan atasku pun tidak akan mempu menghambat pertumbuhan mereka. Mereka adalah jamur anti pembasmi. Mereka menjamuri otakku dengan tawa lewat makian sekelas comberan yang terasa seperti canda. Dan sekarang, hari ini, detik ini, saat bersama mereka, aku di ajarkan kembali tentang “perubahan makna kata”. Pelajaran yang pernah aku pelajari saat aku masih duduk di bangku yang mengharuskanku berseragam putih biru, pelajaran yang kemarin juga aku pelajari saat aku duduk di bangku yang tidak mengharuskan aku mengenakan seragam warna apapun meski pelajaran itu juga telah di ulang pada saat aku duduk di bangku yang mengharuskan aku mengenakan seragam putih abu-abu.
Namora*
Itu kata yang sedang aku bicarakan. Kata yang sedang mengalami “perubahan makan kata”. Seingatku dulu, bukan seingatku, tapi memang benar-benar nyata di ingatanku, Namora adalah kata sakral yang biasa kutulis saat aku hendak beranjak tidur. Kata sakral yang aku adopsi dari Portugis dan hanya kuperuntukan untuk kamu. Untuk menutup harimu.
“Mat mlam Namoraku trkasih.
Q titip rindu dlm selimut yang hangatkn tidurmu.”
To: Uju Q
Date: tahun-tahun setelah Februari
Itu mantra yang selalu aku tulis sebelum aku terlelap dalam kantuk yang dikirim Pencipta untuk mengistirahatkan tubuh juga perasaanku. Kini kata itu mengalami “perubahan makna kata”. Seperti halnya kata-kata yang lain, “perubahan makna kata” Namora juga dilatarbelakangi perubahan kebiasaan dan perubahan keadaan.
Jika dulu kata itu biasa kutulis dan kusimpan dalam inbox HP-mu, kini kata itu kutulis pada status FB-ku. Perubahan Kebiasaan menulis itu juga dilatarbelakangi oleh perubahan keadaan. Dan perubahan keadaan juga dilatarbelakangi oleh perubahan status.
Ketika keadaan berubah, aku mendadak merasa tidak punya hak lagi untuk menulis kata itu dan menyimpanya di inbox HP-mu. Perubahan keadaan yang didasari atas keputusanmu untuk mengubah status hubungan kita dari berpacaran menjadi berpisah. Tapi kamu belum mampu mengubah ritual sebelum tidurku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengalihkan ritual itu dari HP ke FB.
Dan mereka yang menamai diri mereka jamur di musim hujan penghujung tahun benar-benar menjelma menjadi jamur. Tumbuh tanpa pernah bisa dicegah di statusku. Dimulai dari makian terhalus dan mengundang tawa, hingga makian tekasar yang juga masih mampu mengundang tawa, mereka mengajariku pelajaran “perubahan makna kata” itu. kata “Namora”. Kata yang sedang kita bicarakan.
“Saya curiga, jgn2 selama ini namora itu….patung bersutra merah….”
Itu awal perubahan makna kata itu.
Kata yang semula kupakai untuk menyapamu dalam sebuah ritual. Ritual sebelum tidur. Kini kata itu menjadi kata yang diucapkan dibanyak waktu. Kadang kepagian, kadang juga kesiangan, kadang mejelang dini hari. Tapi bukankah kata itu telah mengalami “perubahan makna kata”, jadi sah-sah saja jika kata itu juga mengalami perubahan waktu penggunaannya.
Kata Namora yang kuadopsi dari Portugis yang hanya kuperuntukkan untuk kamu kini mengalami “perubahan makna kata” kerena perubahan kebiasaan dan juga berubahaan keadaan yang dilatarbelakangi oleh perubahan status kita dari berpacaran menjadi berpisah. Kata yang semula berarti kekasih kini mengalami perubahan makna menjadi berhala. Berhala bersutra merah yang setinggi pinggangku di pelataran parkir sebuah rumah adat. Mereka memanggil berhala itu dengan sebutan Namora untuk “memperhalus bahasa”. Akan sangat berbahaya jika secara terang-terangan mereka menyebut patung itu berhala sedang orang-orang yang mengunjungi rumah adat itu menjadikanya penyelamat. Tempat mereka meminta beberapa hal yang mereka anggap Tuhan tidak mampu memberikannya. Bukan mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia namanya jika kami tidak bisa bermain dengan kata-kata.
Jangan tersinggung Namoraku terkasih, mereka adalah jamur yang telah menjamuri otakku dengan tawa ketika kamu memutuskan untuk pergi dan menenggelamkanku dalam kesedihan yang menghancurkan. Meninggalkanku dalam hari-hari dengan kesedihan yang sempurna untuk membunuhku perlahan. Aku masih menyimpan kalimatmu, “Sedihku akan menjadi sedihmu juga”. Jika “perubahan makna kata” itu bisa mengundang tawaku, itu artinya perubahan makna kata itu juga harus mampu mengudang tawamu. Atau paling tidak tawaku mampu mengundang senyummu.
Tapi “perubahan makna kata” yang mereka ajarkan padaku tidak mampu mengubah kebiasaanku Namoraku. Tidak juga mampu mengubah perasaanku. Tidak juga mampu membuatku berhenti berpikir bahwa kamu adalah Namoraku. NAMORA TERKASIH yang aku KASIHI dengan KASIH yang TIDAK PERNAH GAGAL meski kini kita diterpa badai perpisahan yang muncul atas nama PERBEDAAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar