Sabtu, 23 Oktober 2010

menepi

Mulai hari ini, aku adalah cermin yang akan memantulkan bayangmu. Jiwaku sudah telalu lusuh untuk membingkai semuanya menjadi indah. Hatiku, bukan hati sempurna yang mampu menetralisir semua racun. Aku juga punya rasa terluka yang kadang kala menyeruak, namun sirna saat kita bertatap muka.

Ketika kau datang dengan penghianatan dan kebohongan, bekali-kali. aku harus menjadi cermin yang berkali-kali pula memantulkan bayang kesetiaan dan kejujuran. Melahirkan maaf dari hati yang mengerang kesakitan. Membangun kepercayaan yang sering sekali porak-poranda dan terasa mencekik karena tingkahmu. Tapi pada akhirnya, tetap tidak berharga di matamu.

Kamu lebih sering melirik bulan dengan sinar yang cemerlang. Yang terang dan begitu mudah ditangkap mata telanjang. Sedangkan aku, hanya titik putih di antara ribuan titik-titik putih lainnya di kelam malam. Bercahaya tapi kadang tak bisa ditangkap kornea. Redupku kadang membuatmu lupa bahwa aku ada.

Tapi pernahkan kamu menyadari bahwa aku selalu ada. Tak peduli sedang musim apa. Kemarau atau hujan di hatimu tidak pernah membuatku pergi. Aku tetap bersinar dengan cahaya yang apa adanya. Terus-menerus dan tanpa pernah berpikir untuk berhenti dan pergi meninggalkanmu sendiri. Cahayaku memang kerdil, tapi datang dari hati bukan karena pantulan dari benda lain layaknya bulan.

Ketika matahari bersembunyi di upuk barat, dan bulan sedang tidak musim bercahaya, Ketika satu per satu kebahagiaan meninggalkanmu, Kamu menoleh ke arahku. Mencari tempat untuk menyandarkan kepala dan hatimu yang terasa lelah dengan fananya kehidupan yang engkau tapaki. Dan ketika itu terjadi, pernahkah aku lari? Pernahkan aku mengeluh? Pernahkan aku menyalahkan? Bahkan kadang aku menjadi lupa bahwa aku begitu redup dan juga perlu cahaya. Tapi demi terangmu, kadang kubirkan semua sinarku berlabuh di matamu agar aku bisa melihat senyummu. Agar aku bisa menghapus laramu.

Meski kadang, bahagiamu tidak menjadi bahagiaku, tapi sedihmu selalu menjadi sedihku. Ada rasa sakit yang sama ketika aku melihat sakitmu. Kamu tidak pernah tahu betapa aku bahagia saat aku mampu menjadi pengusap air matamu. Menjadi tempatmu berbagi saat seluruh dunia terasa meninggalkanmu sendiri. Ada haru yang meretas hatiku.

Tapi ketika pagi datang, dan kamu menemukan cahaya yang lebih nyata, lebih besar, lebih cemerlang. Kamu kembali melupakanku. Meninggalkan aku yang tetap dengan cahaya redupku. Tanpa pernah berpikir apa yang paling aku inginkan. Dan semua itu tidak terjadi hanya satu kali, tapi berkali-berkali. Bahkan terlampau banyak jumlahnya untuk ku tulis dalam bilangan bulat.

Aku bukan manusia penggemar nyanyian burung yang rela mengurung burung-burung itu dalam sangkar hanya agar aku tetap mendengar nyanyian meraka. Atau pecinta ikan berwarana yang rela membirkan mereka terperangkap dalam kaca hanya agar aku tetap dapat menikmati indahnya. Aku selalu menjadikanmu angin, yang pergi tanpa pernah bisa di cegah dan kembali bila kau merasa lelah.

Ku pikir, semua itu bisa meluluhkan hatimu. Setidaknya, membuat kamu sedikit berpikir bahwa perlu cara yang baik untuk mengakhiri apa yang telah kita mulai. Ternyata tidak, semuanya menjadi debu ketika kamu menemukan sesuatu yang menurutmu jauh melampai aku. Bahkan, cahaya itu telah kamu peluk sebelum kamu memutuskan untuk melepasku selamanya. Dan itu baru aku ketahui setelah beberapa hari perpisahan itu terjadi. Padahal, yang paling di ingat dari sebuah perpisahan bukanlah rasa kehilangan tapi bagaimana perpisahan itu terjadi.

Kini, jiwa ini sudah terlalu letih. Renta termakan masa yang terasa percuma. Silahkan kamu bermandi cahaya yang baru kamu temukan. Semoga kemilaunya tidak pernah mampu membuatmu melirik cahaya lain.

Aku hanya akan menjadi cermin yang memantulkan bayangmu. Ketika mau datang dengan senyuman, makan kebahagiaanlah yang akan kamu lihat. Ketika kamu datang dengan air mata, maka kesedihanlah yang akan kamu nikmati.

3 komentar:

  1. hai salam kenal, kamu dari Natuna ya..!!

    BalasHapus
  2. rizal: maaf ru bls... iya. rizal nak natuna gak k?
    beb: kamu tahu kebenarannya...

    BalasHapus