Di sinilah kita berakhir. Di tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terisi sesak oleh kenangan. Di ujung yang tidak diharapkan.
Rabu, 09 Januari 2013
Selasa, 27 November 2012
Hujan
Sekarang, tengah hujan. Aku tidak tau apa yang tengah kamu lakukan, siapa yang ada dipikiranmu, tapi aku tau bahwa aku mengingatmu.
Pertemuan hujan dan atap rumah adalah cara alam menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang satu-satu tersimpan di alam bawah sadarku. Dan ketika mereka datang kembali, rindu yang sama bergemuruh. Seperti hendak menelanku dalam derita.
Selalu. Aku mengingatmu. Entah itu suara hujan jatuh, angin berhembus, musik bermain, atau sepi yang tidak menyerukan apapun, semuanya mengingatkanku padamu, selalu.
@frans budang
Jumat, 02 November 2012
Tadi malam saya tidak bisa tidur. Kenangan tentang kehilangan hape 1 tahun yang lalu mengguncang otak saya. Ada begitu banyak hal tidak senonoh yang tersimpan di memori hape saya. Cerita hidup saya juga beberapa foto yang memang tidak pantas untuk ditunjukkan.
Saya merasa seperti menunggu, enatah kapan masalah ini akan meledak.
Kamis, 25 Oktober 2012
25 Oktober 2012
Mengapa banyak hal berakhir dengan "rumit"? Bukankah akan lebih mudah jika "berakhir" benar-benar menjadi sebuah akhir. Dan masa lalu benar-benar berlalu. Namun, terkadang ada sebuah momen yang membuatmu stagnan. Sekeras apa pun kamu berusaha untuk lepas, tetap saja kamu akan kembali ke masa itu, karena ada sebagian dari dirimu yang masih bertahan di sana.
Kamis, 20 September 2012
Tahun ke 2
Dua tahun yang lalu, saya menangis di bawah hujan. Dengan isak yang hampir membuat saya susah menarik nafas, saya menguatkan hati, menyemangati diri, bahwa hari itu segalanya harus selesai. Derita kita akan berakhir di ujung hari itu.
Masih jelas di ingatan saya, seberapa banyak saya ketakutan hari itu. Saya berharap jalan akan memanjang, hingga saya tidak akan pernah sampai ke rumahmu. Sebab, sepenggal kalimat yang tidak pernah ingin saya katakan sampai kapan pun, hari itu seperti ingin menembusi kepala saya. Saya hanya merasa bahwa saya tidak lagi sanggup menangguhnya.
Bahkan, setelah 2 tahun berlalu, rasa sakit -yang ditimbulkan ketika ingatan tentang hari itu datang- tidak pernah berkurang. Hujan tengah membadai di hati saya saat ini, sama seperti hari itu.
Terlepas dari seberapa banyak duka yang saya terima ketika bersamamu, saya memutuskan untuk menyimpan sebuah kenangan indah sebagai alasan bahwa saya harus melindungi kamu. Melindungi kamu dari segenap penderitaan yang telah kamu terima dan akan kamu terima jika terus bersama saya.
"Saya tidak pernah mencintai manusia melebihi saya mencintai kamu". Ingatlah itu!! Jadi, jika kamu mendapati dirimu menderita karena perbuatan saya, berpeganglah tanpa ragu pada kalimat itu.
Dan di ujung hari, kita bersama-sama melepas simpul perasaan kita dengan sebuah peluk. Dengan tangan yang basah oleh air matamu, aku melepasmu kekasihku. Aku melepasmu. Aku melepasmu. Pergilah yang jauh, jangan biarkan aku menoleh ke arahmu lagi. Jangan buat aku mengusap air matamu lagi. Jangan buat aku mengalami hari ini lagi.
Senin, 10 September 2012
Ulang Tahun
Aku mendengar hujan tengah
menyanyikan lagu sendu di luar sana. Dan tetes-tetesanya yang terdengar jelas
di telingaku mengingatkanku pada luka yang tidak berdarah sama sekali, tapi
tidak juga mampu menyembuhkan diri. Seketika ada nyilu yang semu. Dan kita
tidak perlu bicara itu, sebab aku, juga kamu sudah sama-sama tau.
Aku meraih kertas dan pulpen
yang ada dijangkauanku. Aku ingin menulis amukan yang ada di kepalaku saat ini.
Menjadi penggalan-penggalan carita yang menyeringaikan tawa atau senyum di
bibirmu nanti. Karena, jika kita bertemu kelak, aku ingin kamu mengenaliku
bahkan dari caraku bicara sekalipun.
Bau basah yang dibawa udara,
membuatku semakin merindukanmu. Aku rindu bersua denganmu. Aku merindukan
diriku yang lain. Aku merindukan aku yang bersemayam dalam dirimu. Aku rindu
menatap jiwaku sendiri tanpa harus berkaca. Tapi keberadaanmu adalah
satu-satunya kenyataan yang tidak bisa kusentuh, hingga hari ini.
****
Ketika jiwaku bersua dengan
jiwamu, aku merasa seperti kita tengah mengurai simpul-simpul kusut selama ini.
Simpul-simpul yang tercipta karena ketidakmampuan kita memahami apa yang
diinginkan kehidupan dari kita. Dan kamu, membuat simpul-simpul itu terlepas
helai demi helai. Kamu menjawab hal yang tidak ingin kujawab. Kamu mempertanyakan
hal yang tidak pernah kutanyakan. Kamu menilik pada hal yang aku abaikan. Dan
kamu mengabaikan hal yang justru kutatap lekat.
Kamulah cercah cahaya yang
memberitahku bahwa kabut tebal yang mengungkungku selama ini tidak lebih hanya
genangan air mata yang tidak pernah kutumpahkan. Tiba pada masa yang
seharusnya, genangan itu mengaburkan pandanganku. Aku mareba-raba masa depan
karena ketidakmampuanku memaafkan masa lalu. Dan kamu, dari balik dunia yang
tidak bisa kusentuh, mengajarkanku bagaimana melunturkan kabut itu. Aku hanya
perlu menangis untuk menyingkirkannya.
Kita dipertemukan di dimensi
lain. Dimansi paralel. Tempat dimana jiwa-jiwa bertemu dan bersua semau mereka.
Dan di antara jumlah yang tak terhingga itu, kamu menemukanku yang merapuh karena
kehidupan kala itu. Menciut dihimpit penderitaan.
Jadilah kamu semacam tong
sampah, sapu tangan, tisue, atau diari. Tempat di mana aku menumpahkan banyak
hal yang tidak bisa kutumpahkan di dunia yang aku injak ini. Tentu saja karena
alasan-alasan yang juga tidak bisa kusebutkan. Kamu mendengar isak, kamu
mendengar serapah, juga jejal pertanyaan yang tidak diperuntukkan untukmu.
Dalam ketiadaanmu, kamu ada.
Mengisi sela-sela kosong dari caritaku hidupku. Melengkapi kehilangan yang
kualami. Menyembuhkan duka yang kuderita.
****
Terima kasih telah lahir ke
dunia ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari semesta yang luas ini. Terima
kasih telah mempertemukan aku dengan jiwaku yang lain.
Tanpa
lilin menyala yang siap disembur mati. Tanpa jabat tangan juga peluk hangat, Selamat Ulang Tahun Hikma. Aku telah
mengirimkan doa, semoga kamu mendengar kabar baik setiap harinya. Semoga cinta
yang sama besar dengan yang kamu berikan akan memantul kembali kepadamu dengan
cara jauh lebih membahagiakan.
Minggu, 29 April 2012
Maaf yang belum terucap
Beberapa tahun lalu, aku mengabaikan banyak hal demi satu hal, yakni diriku sendiri. Aku memperjuangkan cintaku, mengejar kebahagiaan yang dijanjikan oleh orang asing yang kuanggap sebagai bagian dari diriku sendiri. Ketika terlalu sibuk memperjuangkan diri sendiri, aku mengabaikan banyak hal, termasuk keluargaku, masa depanku, teman-temanku, juga ambisiku. Segalanya mendadak menjadi "dia". Dia menjadi poros kehidupanku kala itu.
Kini, aku memanen sesal dari ego yang kutuai....
Langganan:
Postingan (Atom)
