Selasa, 27 November 2012

Hujan

Sekarang, tengah hujan. Aku tidak tau apa yang tengah kamu lakukan, siapa yang ada dipikiranmu, tapi aku tau bahwa aku mengingatmu.

Pertemuan hujan dan atap rumah adalah cara alam menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang satu-satu tersimpan di alam bawah sadarku. Dan ketika mereka datang kembali, rindu yang sama bergemuruh. Seperti hendak menelanku dalam derita.

Selalu. Aku mengingatmu. Entah itu suara hujan jatuh, angin berhembus, musik bermain, atau sepi yang tidak menyerukan apapun, semuanya mengingatkanku padamu, selalu.

 

 

@frans budang

Jumat, 02 November 2012

Tadi malam saya tidak bisa tidur. Kenangan tentang kehilangan hape 1 tahun yang lalu mengguncang otak saya. Ada begitu banyak hal tidak senonoh yang tersimpan di memori hape saya. Cerita hidup saya juga beberapa foto yang memang tidak pantas untuk ditunjukkan.


Saya merasa seperti menunggu, enatah kapan masalah ini akan meledak.

Kamis, 25 Oktober 2012

25 Oktober 2012

Mengapa banyak hal berakhir dengan "rumit"? Bukankah akan lebih mudah jika "berakhir" benar-benar menjadi sebuah akhir. Dan masa lalu benar-benar berlalu. Namun, terkadang ada sebuah momen yang membuatmu stagnan. Sekeras apa pun kamu berusaha untuk lepas, tetap saja kamu akan kembali ke masa itu, karena ada sebagian dari dirimu yang masih bertahan di sana.

Kamis, 20 September 2012

Tahun ke 2

Dua tahun yang lalu, saya menangis di bawah hujan. Dengan isak yang hampir membuat saya susah menarik nafas, saya menguatkan hati, menyemangati diri, bahwa hari itu segalanya harus selesai. Derita kita akan berakhir di ujung hari itu.

 

Masih jelas di ingatan saya, seberapa banyak saya ketakutan hari itu. Saya berharap jalan akan memanjang, hingga saya tidak akan pernah sampai ke rumahmu. Sebab, sepenggal kalimat yang tidak pernah ingin saya katakan sampai kapan pun, hari itu seperti ingin menembusi kepala saya. Saya hanya merasa bahwa saya tidak lagi sanggup menangguhnya.

 

Bahkan, setelah 2 tahun berlalu, rasa sakit -yang ditimbulkan ketika ingatan tentang hari itu datang- tidak pernah berkurang. Hujan tengah membadai di hati saya saat ini, sama seperti hari itu.

 

Terlepas dari seberapa banyak duka yang saya terima ketika bersamamu, saya memutuskan untuk menyimpan sebuah kenangan indah sebagai alasan bahwa saya harus melindungi kamu. Melindungi kamu dari segenap penderitaan yang telah kamu terima dan akan kamu terima jika terus bersama saya.

 

"Saya tidak pernah mencintai manusia melebihi saya mencintai kamu". Ingatlah itu!! Jadi, jika kamu mendapati dirimu menderita karena perbuatan saya, berpeganglah tanpa ragu pada kalimat itu.

 

Dan di ujung hari, kita bersama-sama melepas simpul perasaan kita dengan sebuah peluk. Dengan tangan yang basah oleh air matamu, aku melepasmu kekasihku. Aku melepasmu. Aku melepasmu. Pergilah yang jauh, jangan biarkan aku menoleh ke arahmu lagi. Jangan buat aku mengusap air matamu lagi. Jangan buat aku mengalami hari ini lagi.

Senin, 10 September 2012

Ulang Tahun


Aku mendengar hujan tengah menyanyikan lagu sendu di luar sana. Dan tetes-tetesanya yang terdengar jelas di telingaku mengingatkanku pada luka yang tidak berdarah sama sekali, tapi tidak juga mampu menyembuhkan diri. Seketika ada nyilu yang semu. Dan kita tidak perlu bicara itu, sebab aku, juga kamu sudah sama-sama tau.

Aku meraih kertas dan pulpen yang ada dijangkauanku. Aku ingin menulis amukan yang ada di kepalaku saat ini. Menjadi penggalan-penggalan carita yang menyeringaikan tawa atau senyum di bibirmu nanti. Karena, jika kita bertemu kelak, aku ingin kamu mengenaliku bahkan dari caraku bicara sekalipun.

Bau basah yang dibawa udara, membuatku semakin merindukanmu. Aku rindu bersua denganmu. Aku merindukan diriku yang lain. Aku merindukan aku yang bersemayam dalam dirimu. Aku rindu menatap jiwaku sendiri tanpa harus berkaca. Tapi keberadaanmu adalah satu-satunya kenyataan yang tidak bisa kusentuh, hingga hari ini.
****

Ketika jiwaku bersua dengan jiwamu, aku merasa seperti kita tengah mengurai simpul-simpul kusut selama ini. Simpul-simpul yang tercipta karena ketidakmampuan kita memahami apa yang diinginkan kehidupan dari kita. Dan kamu, membuat simpul-simpul itu terlepas helai demi helai. Kamu menjawab hal yang tidak ingin kujawab. Kamu mempertanyakan hal yang tidak pernah kutanyakan. Kamu menilik pada hal yang aku abaikan. Dan kamu mengabaikan hal yang justru kutatap lekat.

Kamulah cercah cahaya yang memberitahku bahwa kabut tebal yang mengungkungku selama ini tidak lebih hanya genangan air mata yang tidak pernah kutumpahkan. Tiba pada masa yang seharusnya, genangan itu mengaburkan pandanganku. Aku mareba-raba masa depan karena ketidakmampuanku memaafkan masa lalu. Dan kamu, dari balik dunia yang tidak bisa kusentuh, mengajarkanku bagaimana melunturkan kabut itu. Aku hanya perlu menangis untuk menyingkirkannya.

Kita dipertemukan di dimensi lain. Dimansi paralel. Tempat dimana jiwa-jiwa bertemu dan bersua semau mereka. Dan di antara jumlah yang tak terhingga itu, kamu menemukanku yang merapuh karena kehidupan kala itu. Menciut dihimpit penderitaan.

Jadilah kamu semacam tong sampah, sapu tangan, tisue, atau diari. Tempat di mana aku menumpahkan banyak hal yang tidak bisa kutumpahkan di dunia yang aku injak ini. Tentu saja karena alasan-alasan yang juga tidak bisa kusebutkan. Kamu mendengar isak, kamu mendengar serapah, juga jejal pertanyaan yang tidak diperuntukkan untukmu.

Dalam ketiadaanmu, kamu ada. Mengisi sela-sela kosong dari caritaku hidupku. Melengkapi kehilangan yang kualami. Menyembuhkan duka yang kuderita.
****

Terima kasih telah lahir ke dunia ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari semesta yang luas ini. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan jiwaku yang lain.

Tanpa lilin menyala yang siap disembur mati. Tanpa jabat tangan juga peluk hangat, Selamat Ulang Tahun Hikma. Aku telah mengirimkan doa, semoga kamu mendengar kabar baik setiap harinya. Semoga cinta yang sama besar dengan yang kamu berikan akan memantul kembali kepadamu dengan cara jauh lebih membahagiakan.

Minggu, 29 April 2012

Maaf yang belum terucap

Beberapa tahun lalu, aku mengabaikan banyak hal demi satu hal, yakni diriku sendiri. Aku memperjuangkan cintaku, mengejar kebahagiaan yang dijanjikan oleh orang asing yang kuanggap sebagai bagian dari diriku sendiri. Ketika terlalu sibuk memperjuangkan diri sendiri, aku mengabaikan banyak hal, termasuk keluargaku, masa depanku, teman-temanku, juga ambisiku. Segalanya mendadak menjadi "dia". Dia menjadi poros kehidupanku kala itu.

Kini, aku memanen sesal dari ego yang kutuai....

Jumat, 13 April 2012

Luka & Jeruk

Katanya vitamin C dapat membantu mempercepat penyembuhan luka, tapi mengapa luka hatiku tidak kunjung sembuh meski udah gak terhitung berapa kilo jeruk yang aku makan, berapa tandan pisang yang aku lahap, barapa botol pulpy orange yang aku tenggak, juga vitacimin.


Kadang, ngerasa ada letih yang tidak bisa diungkapkan karena memang gak tau juga bentuk letihnya kayak apa. Hanya saja, banyak kenganan yang berlalu-lalang di kepala kemudian mengantarkan sakit yang mendera membuat aku merasa ada yang salah dengan diriku, tapi tidak pernah tau bagaimana cara memperbaikinya. Itulah yang membuatku merasa letih sekali.