Sabtu, 14 Juni 2014

Kamu ingin bahagia. Dan aku ingin kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Itu saja. Jadi, kali ini kubiarkan kamu menyalahkanku jika memang itu bisa menyelamatkan hubunganmu dengan dia. Aku maafkan kamu.

Beauty and The Beast

Sedang demam [parah] series "Beauty and The Beast". Udah nonton berkali-kali pun tetap ingin nonton lagi. Hal yang paling saya suka dari cerita ini adalah bagaimana si Beast berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik dan menerima kekurangannya sebagaia bagian dari dirinya. Dan si Beauty menerima kekuranganya itu sebagai bagian dari mencintai. Sebab cinta tidak melulu masalah "lebih", tapi masalah menerima. Dan penerimaan adalah langkah pertama yang harus diambil untuk bahagia dalam hidup yg tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.


Cinta tidak akan membuat kita menuntut orang yg kita cintai menjadi cermin bagi keinginan kita.


Begitulah seharusnya cinta. Membuat kita menerima diri kita sendiri dan menerima dia apa adanya.
Begitulah seharusnya cinta. Membuat dia menerima dirinya sendiri dan kita apa adanya.


Meski ketidaksempuarnaan nampak bahkan dengan mata tertutup, tapi cinta mampu membuat kita menemukan sisi yang membuat kita tetap saling menerima tanpa harus menjadi sempurna. Sebab cinta adalah penerimaan. Bahkan penerimaan terhadap penderitaan sekalipun. Dan cinta pada akhirnya menjadi satu-satunya alasan untuk saling memperjuangkan.

Aku bersedia memeluk penderitaan dengan suka rela hanya untuk mengalami cinta seperti itu. Cinta yang membuat aku diterima dan menerima tanpa syarat. Menerima dia dan diriku sendiri sebagai ketidaksempurnaan yang tidak perlu disempurnakan hanya untuk bahagia.


Rabu, 11 Juni 2014

Keracunan Rindu

"Aku keracunan," kataku padamu lewat pesan singkat yang kukirim pada suatu malam dengan rindu yang membucah. Rindu yang menyesak hingga mengganggu proses pernafasan. Rindu yang membawa nyilu yang semu. Kala itu, gerimis sedang turun selembut embun di luar. Dan aku tidak lagi sanggup untuk menolak merindukanmu. Kemudian, beberapa menit berikutnya, kamu menelpon. Dengan suara penuh khawatir, kamu bertanya. "Kamu baik-baik saja?" "Kok bisa?" "Karacunan apa?"


"Keracunan rindu", kataku setelah rentetan pertanyaanmu selesai. Setelah kamu terdiam dan hanya nafas khawatirmu yang memburu memenuhi rongga telingaku.


"Kimput", katamu sebagai balasan. "Aku mengkhawatirkanmu setengah mati dan kamu masih sempat-sempatnya main-main."


Detik berikutnya, kita tertawa terbahak-bahak. Bukan menertawakan leluconku, melainkan menertawakan kesadaran kita. Kesadaran bahwa kita masih sama-sama tahu bahwa cinta kita belum terbunuh. Bahwa perpisahan tidak menjadi jalan buntu yang harus membuat kita berpaling dan saling melupakan.


Bukankah hidup terlihat lucu? Kita sama-sama mengetahui bahwa kita saling mencintai. Bahwa kita masih mencintai. Bahwa kita belum mampu saling melepaskan. Tapi kita justru memilih perpisahan lantaran terbentur pada perbedaan. Lalu, untuk apa cinta jika tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyatukan? Untuk menguatkan? Aku tidak pernah memahami masalah ini. Mungkin tidak akan sanggup memahaminya, selamanya.


Tapi, untuk menghormati kebahagian dan penderitaan yang pernah kita alami untuk merasakan mencintai dan dicintai, aku menganggap bahwa kita adalah pertemuan yang ditakdirkan untuk sebatas menjadi kenangan.



Untuk: Fransiskus Budang

Senin, 02 Juni 2014

Ingatlah

Kamu selalu punya pilihan.

Ingat itu.

Ketika kamu memilih untuk menyelamatkan dirimu dengan menyakiti orang lain, ingatlah bahwa sekecil apapun pilihan tetap akan memiliki konsekuensi.

Dan ketika konsekuensi itu datang, ingatlah bahwa aku telah memperingatkanmu akan hal ini.

Dan ketika kamu benar-benar mengingat hal ini, ingatlah bahwa semua ini sudah berlalu. Dan tidak ada jalan bagimu untuk kembali.

Ingatlah bahwa dulu kita adalah manusia yang mengikat diri dengan cara yang baik dan tujuan yang baik pula. Tapi ketika keadaan menyakiti kita, tak lantas kita perlu menyakiti satu sama lain hanya untuk mempertahankan diri. Kita adalah cinta. Dan cinta tidak menyakiti tapi membebaskan.


Aku mencintaimu, selalu Fransiskus Budang!

Minggu, 01 Juni 2014

Retak, Kemudian Pecah

Di sinilah kita berakhir. Di tulisan-tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat-kalimat yang sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terjejal sesak oleh kenangan menyakitkan. Di ujung yang tidak pernah diharapkan. Kemarahan. Kebencian. Penderitaan.

Aku sudah memberimu alasan untuk membenciku. Gunakanlah itu untuk bertahan hidup. Gunakanlah itu untuk tidak kembali tercebur dalam penderitaan yang sama. Gunakanlah itu untuk menguatkanmu untuk tetap menjaga jarak agar kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk saling menyakiti.

Aku bukan terlalu ego untuk meminta maaf, tapi aku hanya membiarkan itu menjadi alasanmu untuk membenciku. Karena, jika kamu tidak memiliki sesorang untuk dibenci, kamu mungkin akan berakhir membenci dirimu sendiri. Dan aku tidak ingin itu.

Terima saja bahwa kita adalah kaca yang telah lama retak. Namun dipaksakan untuk terus dipakai. Dan akhirnya, pecah. Selesai dengan cara yang tidak diinginkan dan tidak lagi bisa diperbaiki. Semoga inilah akhir dari segalanya.

Frans Budang

Jumat, 15 Februari 2013

Valentine

Dear Valentine...

Terima kasih atas keberadaanmu. Terima kasih karena telah menjadi alasan bagi terciptanya masa 3:37:05 yang indah dalam hidupku hari ini. Kamu membuatku mendengar suaranya lagi. Coklat mana pun tidak akan mempu menandinginya.

Aku selalu merindukan masa di mana jantungku melaju begitu kencang ketika aku berhadapan denganmu. Dan hari ini, kamu membuatku kembali menyadari, bahwa rasa itu tetap ada. Utuh, dan tetap pada tempatnya.

 

"Kehadairan orang baru akan mambuatmu melupakanku"

 

Aku berpendapat lain. Tidak akan ada orang baru sebelum aku berhasil melupakanmu. Atau paling tidak "mengabaikanmu". Sebab, tidak akan ada raung untuk siapa pun jika kamu masih di sana. Di tempat yang seharusnya sudah di kosongkan.


Intinya, terima kasih karena mengatakan, "saya merindukan kamu". Terima kasih karena mengatakan, "saya mencintai kamu hingga hari ini". Terima kasih kerena mengatakan, "saya mengingatmu setiap hari" Terima kasih kerena mengatakan banyak hal...

Selasa, 05 Februari 2013

Nyanyian hujan

Jika hujan menyentuh atap rumahmu, itu artinya aku tengah merindukanmu. Jangan dongakkan kepalamu untuk menantang hujan, aku tidak ingin hujan membagi dukaku. Cukup ulurkan tangan lewat jendela kamar tidurmu. Dan biarkan rintik-rintik itu mengapung di telapkmu. Atau menembus sela-sela jarimu. Itulah aku yang tengah menyentuhmu.