Di sinilah kita berakhir. Di tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terisi sesak oleh kenangan. Di ujung yang tidak diharapkan.
Jumat, 15 Februari 2013
Selasa, 05 Februari 2013
Nyanyian hujan
Jika hujan menyentuh atap rumahmu, itu artinya aku tengah merindukanmu. Jangan dongakkan kepalamu untuk menantang hujan, aku tidak ingin hujan membagi dukaku. Cukup ulurkan tangan lewat jendela kamar tidurmu. Dan biarkan rintik-rintik itu mengapung di telapkmu. Atau menembus sela-sela jarimu. Itulah aku yang tengah menyentuhmu.
Rabu, 09 Januari 2013
.....
My Dear.
Resah adalah pertanda bahwa masih ada hal yang belum selesai. Kehilanganmu tidak menjadi satu-satunya alasan yang melukaiku begitu dalam. Tapi ketidakpastian seberapa besar kebenaran dari setiap omonganmu, atau ketidaktahuanku akan bagian mana dari cerita kita yang mewakili kebenaran dan bagian mana yang hanyalah kebohonganlah yang lebih melukaiku. Hingga hari kita memutuskan untuk berpisah, setumpuk tanya masih tidak terjawab. Entah kamu yang tidak pernah jujur, atau akulah yang tidak lagi mampu membuka diri untuk mendengar kejujuran. Tapi yang pasti, semua itu membuatmu enggan enyah dari kepalaku.
Masa lalu tidak seharusnya menjadi hantu. Masa lalu tidak seharusnya menjadi arah. Masa lalu tidak lagi pantas melukai. Namun, masa lalu adalah bagian dari diri kita. Jadi, jangan salahkan aku yang masih sering membicarkan masa lalu.
Selasa, 27 November 2012
Hujan
Sekarang, tengah hujan. Aku tidak tau apa yang tengah kamu lakukan, siapa yang ada dipikiranmu, tapi aku tau bahwa aku mengingatmu.
Pertemuan hujan dan atap rumah adalah cara alam menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang satu-satu tersimpan di alam bawah sadarku. Dan ketika mereka datang kembali, rindu yang sama bergemuruh. Seperti hendak menelanku dalam derita.
Selalu. Aku mengingatmu. Entah itu suara hujan jatuh, angin berhembus, musik bermain, atau sepi yang tidak menyerukan apapun, semuanya mengingatkanku padamu, selalu.
@frans budang
Jumat, 02 November 2012
Tadi malam saya tidak bisa tidur. Kenangan tentang kehilangan hape 1 tahun yang lalu mengguncang otak saya. Ada begitu banyak hal tidak senonoh yang tersimpan di memori hape saya. Cerita hidup saya juga beberapa foto yang memang tidak pantas untuk ditunjukkan.
Saya merasa seperti menunggu, enatah kapan masalah ini akan meledak.
Kamis, 25 Oktober 2012
25 Oktober 2012
Mengapa banyak hal berakhir dengan "rumit"? Bukankah akan lebih mudah jika "berakhir" benar-benar menjadi sebuah akhir. Dan masa lalu benar-benar berlalu. Namun, terkadang ada sebuah momen yang membuatmu stagnan. Sekeras apa pun kamu berusaha untuk lepas, tetap saja kamu akan kembali ke masa itu, karena ada sebagian dari dirimu yang masih bertahan di sana.
Kamis, 20 September 2012
Tahun ke 2
Dua tahun yang lalu, saya menangis di bawah hujan. Dengan isak yang hampir membuat saya susah menarik nafas, saya menguatkan hati, menyemangati diri, bahwa hari itu segalanya harus selesai. Derita kita akan berakhir di ujung hari itu.
Masih jelas di ingatan saya, seberapa banyak saya ketakutan hari itu. Saya berharap jalan akan memanjang, hingga saya tidak akan pernah sampai ke rumahmu. Sebab, sepenggal kalimat yang tidak pernah ingin saya katakan sampai kapan pun, hari itu seperti ingin menembusi kepala saya. Saya hanya merasa bahwa saya tidak lagi sanggup menangguhnya.
Bahkan, setelah 2 tahun berlalu, rasa sakit -yang ditimbulkan ketika ingatan tentang hari itu datang- tidak pernah berkurang. Hujan tengah membadai di hati saya saat ini, sama seperti hari itu.
Terlepas dari seberapa banyak duka yang saya terima ketika bersamamu, saya memutuskan untuk menyimpan sebuah kenangan indah sebagai alasan bahwa saya harus melindungi kamu. Melindungi kamu dari segenap penderitaan yang telah kamu terima dan akan kamu terima jika terus bersama saya.
"Saya tidak pernah mencintai manusia melebihi saya mencintai kamu". Ingatlah itu!! Jadi, jika kamu mendapati dirimu menderita karena perbuatan saya, berpeganglah tanpa ragu pada kalimat itu.
Dan di ujung hari, kita bersama-sama melepas simpul perasaan kita dengan sebuah peluk. Dengan tangan yang basah oleh air matamu, aku melepasmu kekasihku. Aku melepasmu. Aku melepasmu. Pergilah yang jauh, jangan biarkan aku menoleh ke arahmu lagi. Jangan buat aku mengusap air matamu lagi. Jangan buat aku mengalami hari ini lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
