Senin, 20 April 2015

Fransiskus Budang

Selamat ulang tahun kamu yang lahir pada hari ini. Selalu, aku ingin berterima kasih karena kamu telah lahir ke dunia ini. Selalu, aku ingin berterima kasih pada ibumu yang telah membawamu ke dunia ini. Selalu, aku ingin berterima kasih pada keluargamu karena telah membesarkanmu sehingga aku bisa bertemu denganku.

Kamu tau apa hal yang paling susah untuk dilakukan ketika aku jauh darimu?

MENGABAIKANMU.

Aku tidak mampu melakukan itu. Masih tidak mampu melakukan itu. Aku tidak mampu menahan diriku untuk menghubungimu. Hal berikutnya yang terjadi adalah "nyilu". Nyilu yang muncul ketika aku mengingatmu dan tersadar bahwa aku tidak lagi punya hak bahkan hanya untuk mengetakan "Selamat Ulang Tahun. Aku di sini selalu mendoakanmu. Aku di sini selalu mengingatmu."

Aku mencintaimu Fransiskus Budang. Tidak satu hari pun selama hampir 8 tahun ini aku tidak mengingatmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak merindukanmu. Tidak bahkan satu hari pun aku tidak menginginkanmu.



Aku mencintaimu, selalu!



Selamat Ulang Tahun. Selamat merayakan hari penuaan #Frans Budang.

Selasa, 25 November 2014

Aku Ingin Membencimu

Aku ingin percaya bahwa segala perlakuan burukmu mampu membuatku membencimu. Aku ingin percaya bahwa segala sakit yang kau berikan cukup untuk kujadikan alasan untuk membencimu. Aku ingin percaya, bahwa aku membencimu.

Tapi, siapa yang kubohongi jika aku menyimpan pemikirian itu? Tentu saja diriku sendiri.
Karena aku mencintaimu.
Masih mencintaimu.
Terlalu mencintaimu.
Dan tidak akan sanggup berhenti mencintaimu.




Bulovee

Rabu, 19 November 2014

Maaf Pertama

Ketika hidup terlalu lama dalam kesengsaraan, kamu akan berhenti melihat manusia sebagai manusia. Ketulusan sebagai ketulusan Orang-orang yang kamu hadapi akan kelihatan sebagai ancaman. Sesuatu yang nanti akan kembali memberi luka. Karena semua itu, kita tidak memiliki kemampuan untuk percaya. Tak peduli manusia seperti apa pun yang kita hadapi, kita akan selalu mengambil jarak. Jarak yang diharapkan mampu melindungi kita dari luka yang sama yang pernah kita alami di masa lalu.

Saya tidak ingin berpikir demikian. Tapi itu sudah tertanam dalam kepala saya. Ada ketakutan yang tidak akan mudah untuk dienyahkan. Ketakutan untuk terjerembab kembali dalam penderitaan yang sama. Penderitaan yang membuat saya kehilangan sebagian sisi kemanusiaan saya. Penderitaan yang membuat saya berharap untuk tidak pernah jatuh cinta lagi. Penderitaan yang membuat saya ingin sendiri untuk selamanya.

Tapi perjalana kehidupan membawa saya ke arah yang lain. Saya bertemu dengan orang seperti kamu. Orang yang terluka mungkin lebih parah dari saya tapi tidak pernah takut untuk mencoba lagi. Tidak pernah takut untuk kembali percaya. Saya iri padamu. Penderitaan di masa lalu membuat kamu melihat masa depan sebagai hal yang harus diperjuangkan. Sedangkan saya, masa depan adalah hal yang ingin saya hidarkan.

Saya tidak pernah menduga bahwa saya akan mencoba untuk membuka hati saya lagi untuk orang yang sama porak-porandanya dengan saya. Lalu, siapa yang akan menjadi penyeimbang untuk kita yang sama rapuhnya. Siapa yang akan menguatkan untuk kita yang sama-sama pernah menyerah pada masa depan. Tapi saya ingin mencobanya. Dan ketika saya putuskan untuk mencoba, tak lantas ketakutan saya hilang begitu saja. Tak lantas saya lupa bahwa saya sekarat dalam jangka waktu yang lama hanya karena saya memberikan hati saya untuk orang yang salah. Lalu, bagaimana jika ternyata kamu juga bukan orang yang tepat? Lalu, bagaimana jika perjalanan ini kembali mengantarkan saya pada tempat yang sama? Penderitaan!

Saya takut menghadapi segala kemungkin. Saya takut akan segala rencana yang jika tidak terwujud tentu saja akan memberikan luka. Namun di atas itu semua, saya takut bahwa sayalah yang kemudian menyakiti kamu karena ketidakmampuan saya memaafkan masa lalu. Ketidakmampuan saya untuk percaya lagi. Ketidakmampuan saya mengatasi ketakutan saya sendiri.

Untuk itu, jauh hari, saya ucapkan MAAF pertama saya untuk kamu karena menjadikan kamu bahan percobaan. Jika besok lusa, ketakutan saya terwujud, tolong jangan membenci saya.

Selasa, 30 September 2014

Cinta memonsterkan manusia 1

Beberapa bulan belakangan ini aku berhadapan dengan orang tidak bisa kukategorikan dalam "manusia macam apa". Tapi jika harus, akan kukategorikan ia ke dalam manusia yang "jiwanya sakit". Bukan dalam arti ia gila. Hanya saja ia tidak mampu menerima kehilangan yang ia sebabkan sendiri. Kemudian ia sibuk mencari orang untuk disalahkan untuk mengurangi luka hatinya. Sebab menanggung kehilangan orang yang paling dicintai karena perbuatan kita sendiri bukanlah penderitaan yang bisa ditanggung dengan mudah. Perlu keberanian dan kelapangan hati untuk menjalani itu. Sedangkan ia terlalu kerdil di kepalanya sendiri hingga lupa bahwa dunia tidak selebar isi kepalanya saja.

Ia menganggap cinta sebagai hutang budi yang harus dibayar. Pengorbanan harus berujung pada mendapatkan. Dan keinginannya harus berakhir pada terwujud. Hingga berubahlah cinta itu menjadi ambisi dan obsesi. Ketika mencintai dilakukan dengan cara yang salah, maka yang didapat tidak akan lebih dari "rasa sakit". Dan ia terlalu pengecut untuk menerima itu.

Ia kehilangan banyak hal demi memperjuangkan satu hal. Keluarga, teman, bahkan pekerjaan. Dan di ujung cerita, ia kehilangan hal yang ia perjuangkan juga. Ketika cinta dipandang sebagai hutang budi yang harus dibayar kembali, Kehilangan bukanlah hal terakhir yang ia inginkan.

Ia menolak untuk menerima bahwa ia telah kalah. Ia menolak untuk menerima bahwa ia telah salah. Ia menolak bahwa kehilangannya adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Orang seperti inilah orang yang kukategorikan ke dalam orang yang jiwanya sakit. Orang yang lupa bahwa hati dan kepala harus digunakan dengan seimbang.

Sejak awal, ia datang datang bukan untuk mendengar kebenaran tapi pembenaran. Dan aku tidak mampu memberikan itu padanya. Sebab bagiku, cinta selalu mengarahkan manusia ke arah yang baik. Dan ketika aku mengatakan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia menemukan sesorang untuk di musuhi ketika keadaan menyakitinya. Ia menemukan seseorang untuk disalahkan ketika kehilangan mendatanginya.

Kupikir cinta tidak membutakannya. Kebodohannyalah yang membutakannya. Kupikir cinta tidak menyakitinya. Obsesi dan ambisinyalah yang menyakitinya.

Jadi, terima kasih karena datang pada saya dengan masalah yang tidak ada urusannya dengan saya. Terima kasih karena menyalahkan saya untuk kehilangan yang kamu sebabkan sendiri. Terima kasih membuat saya menertawakan kebodohanmu. Dan terima kasih telah menunjukan jati diri. Saya kehilangan satu lagi penghianat dalam hidup saya. Ini anugerah terindah.

Minggu, 28 September 2014

Cinta Tidak Memonsterkan Kita

Kejadian hari ini membuatku kembali bersyukur. Sebab aku dan kamu tidak sibuk mencari orang lain untuk disalahkan ketika hubungan kita mulai menyakiti. Aku bersyukur sebab kamu dan aku menerima perpisahan itu dengan baik. Aku bersyukur sebab aku dan kamu mampu melakukan perpisahan yang rapi. Aku bersyukur bahwa aku bertemu denganmu, bukan orang lain yang nantinya sibuk menghitung berapa kerugiannya dan menolak melakukan perpisahan meski itu sudah mesti terjadi. Menganggap cinta sebagai utang budi yang harus dilunasi. Menganggap pengorbanannya harus dibayar dengan harga yang pantas, yakni keinginannya.

Aku bersyukur kamu menjagaku hingga selesai. Aku bersyukur kamu tidak menjadikan hubungan kita sebagai tontonan publik. Aku bersyukur kamu menjadi manusia yang berahasia. Aku bersyukur kamu mencintai dengan cara yang benar. Aku bersyukur cinta membuatmu mampu membedakan hal yang benar dan tidak. Aku bersyukur untuk segalanya.

Aku bersyukur kamu tidak mempermalukanku ketika kamu tidak lagi bisa jadi pilihanku. Aku bersyukur kamu tidak membalas perbuatan buruku dengan perbuatan buruk pula. Aku bersyukur kamu menunjukan cinta yang apa adanya. Aku bersyukur kamu memiliki ambisi yang tidak melukaiku. Aku bersyukur kamu membebaskanku untuk memilih yang baik untukku. Aku bersyukur kamu tidak menjadikanku refleksi dari isi kepalamu. Aku bersyukur untuk kenangan manis yang masih membuatku menangis. Aku bersyukur untuk kenangan buruk yang membuatku membuka mata lebih lebar. Aku bersyukur doa yang kau ucapkan tanpa pernah kutau. Aku bersyukur kamu tidak menjadi monster hanya kerena kehidupan tidak sesuai dengan keinginanmu.

Aku bersyukur untuk segalanya kekasih. Untuk segalanya!

Kamis, 11 September 2014

Cinta itu mengerikan. Bertahan kadang lebih lama dari yang kita harapkan.

Minggu, 06 Juli 2014

Entahlah

Mendadak merasa kesepian. Padahal hari ini tidak ada kejadian buruk yang saya alami. Dan detik ini, saya duduk di antara puluhan orang yang tidak saya kenal, tapi berisik kok. Lalu, bagaimana caranya rasa sepi itu bisa menyelinap begitu saja? Tanpa sebab pula.

Saya berpikir bahwa waktu telah membuat saya terbiasa. Telah membuat saya paham. Tapi kehidupan kadang lucunya tidak ketulungan. Saya sama sekali tidak terbiasa meski waktu telah jauh berlalu. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak meninggalkan masa lalunya barang sehari saja. Bernafas untuk hari itu saja. Mengingat hal-hal yang terjadi hari itu saja. Berbicara pada orang-orang yang ada pada hari itu saja. Saya tidak paham. Tidak juga terbiasa.

Saya telah belajar menerima bahwa kesepian ini adalah bagian dari diri saya. Hal yang telah saya alami, sedang saya alami dan akan tetap saya alami. Seharusnya ini tidak lagi menjadi masalah. Tidak lagi menjadi hal yang mengganggu. Toh, saya sudah hidup bergandengan dengannya bertahun-tahun. Tapi ada hari di mana rasa kesepian itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak bisa dilewatkan begitu saja. Tidak bisa hanya sebatas dirasakan. Ia menuntut untuk diperhatikan. Menuntut untuk diselesaikan.

Saya ingin menyerah. Tapi jalan untuk menyerah saja tidak ada.
Lalu?
Entahlah!