Kamis, 29 Maret 2012

Wisuda


Hari ini, aku wisuda. Seperti rencana, harus lempar toga ke angkasa meksi dipungut lagi akhirnya -simbolisasi sebuah kebebasan!

Bagian yang tidak kusuka dari alur hidup hari ini adalah ketika aku berjalan menyusuri lorong menuju ruang wisuda yang di kiri dan kanannya diisi oleh orang tua atau pendamping wisuda. Tidak ada yang menunggu dengan semringah kedatanganku, kemudian melambaikan tangan sekedar memberi tahu bahwa aku penting hari ini. Juga ketika aku berjalan meninggalkan ruang wisuda, tidak ada yang berdiri di depan pintu, mengulurkan tangan, atau merangkulku dan berkata, selamat! Bahkan di hari bahagia saja bisa menjadi bencana karena kesepian.

Bagaimana mungkin perasaan kesepian itu bisa menyelinap di antara 1342 orang wisudawan? Menjadikan detik-detik dalam rentang waktu 4 jam seperti diseret pergerakannya. Dan hingga jam-jam segini, sepi-sepi itu masih tidak mau pergi.

Bayangkan saja kalau kamu di sini, tentu tumpukan-tumpukan penderitaan ini tidak akan terlalu menyiksa. Tapi tentu tidak adil jika aku mengiginkan kamu hanya kerena aku tidak ingin kesepian atau kerena aku membutuhkan orang untuk berbagi penderitaan. Kamu lebih dari itu bagiku! Kamu adalah penderitaan yang aku peluk dengan bahagia. Kamu adalah rindu yang paling kubenci Fransiskus Budang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar