Saya mendadak bingung harus menulis apa. Yang pastinya, hari ini adalah hari ke 365 yang harus saya lewati tanpa kamu. Sungguh bukan waktu yang singkat, mengingat betapa sulitnya saya untuk bertahan melewati satu hari ke hari lainnya.
Hari ini, saya ingin menceritakan sebuah dongeng padamu. Dongeng tentang putri duyung yang jatuh cinta pada seorang manusia. Ia bahkan rela menukar suaranya yang cantik dengan sepasang kaki agar ia bisa berjalan menghampiri manusia tersebut. Untuk beberapa waktu, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjadi orang lain hanya untuk orang lain. Bahkan, pengorbanannya yang besar harus menghasilkan kekecewaan yang sama besarnya ketika pada akhirnya ia mengetahui bahwa meraka tidak mungkin bersama.
Tapi putri duyung tidak menyesali apa yang telah ia lakukan. Karena baginya, setiap momen yang ia alami baik tawa maupun tangis adalah anugrah. Putri duyung juga menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya tersendiri. Terkadang, kita hanya siap menerima konsekuensi positif dari pilihan kita dan menyalahkan orang lain ketika yang kita terima berlawanan dari keinginan.
"Karena kita tidak bisa bersama dengan alasan "kita beda", maka biarkan aku tetap di sisimu secara diam-diam, seperti aku tidak pernah ada di sampingmu. Biarkan aku tetap mencintaimu. Biarkan aku menghargai perasaanku sendiri. Karena aku lebih memilih menerima rasa "kecewa" dari pada rasa "sesal". Dan ketika waktunya tiba, aku akan menghilang dari hidupmu seperti gelembung. Tanpa bekas." Itulah yang dikatakan putri duyung pada manusia.
Begitu juga dengan kita, karena kita tidak lagi bisa berjalan seiring, karena kamu tidak lagi bisa mengisi celah-celah di jari saya, maka biarkan saya stagna pada satu momen. Satu momen dimana kamu utuh menjadi milik saya. Tapi jangan pernah meminta saya untuk mundur atau melangkah maju sendiri. Saya masih tidak siap. Biarkan saya tetap mencintai kamu dengan "cara" saya sendiri. Dan ketika waktunya tiba, saya akan menjadi gelembung seperti putri duyung. Karena itulah takdir untuk kamu dan saya.
Hari ini, saya ingin menceritakan sebuah dongeng padamu. Dongeng tentang putri duyung yang jatuh cinta pada seorang manusia. Ia bahkan rela menukar suaranya yang cantik dengan sepasang kaki agar ia bisa berjalan menghampiri manusia tersebut. Untuk beberapa waktu, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjadi orang lain hanya untuk orang lain. Bahkan, pengorbanannya yang besar harus menghasilkan kekecewaan yang sama besarnya ketika pada akhirnya ia mengetahui bahwa meraka tidak mungkin bersama.
Tapi putri duyung tidak menyesali apa yang telah ia lakukan. Karena baginya, setiap momen yang ia alami baik tawa maupun tangis adalah anugrah. Putri duyung juga menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya tersendiri. Terkadang, kita hanya siap menerima konsekuensi positif dari pilihan kita dan menyalahkan orang lain ketika yang kita terima berlawanan dari keinginan.
"Karena kita tidak bisa bersama dengan alasan "kita beda", maka biarkan aku tetap di sisimu secara diam-diam, seperti aku tidak pernah ada di sampingmu. Biarkan aku tetap mencintaimu. Biarkan aku menghargai perasaanku sendiri. Karena aku lebih memilih menerima rasa "kecewa" dari pada rasa "sesal". Dan ketika waktunya tiba, aku akan menghilang dari hidupmu seperti gelembung. Tanpa bekas." Itulah yang dikatakan putri duyung pada manusia.
Begitu juga dengan kita, karena kita tidak lagi bisa berjalan seiring, karena kamu tidak lagi bisa mengisi celah-celah di jari saya, maka biarkan saya stagna pada satu momen. Satu momen dimana kamu utuh menjadi milik saya. Tapi jangan pernah meminta saya untuk mundur atau melangkah maju sendiri. Saya masih tidak siap. Biarkan saya tetap mencintai kamu dengan "cara" saya sendiri. Dan ketika waktunya tiba, saya akan menjadi gelembung seperti putri duyung. Karena itulah takdir untuk kamu dan saya.
*no need to say goodbye Fransiskus Budang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar