Namoraku terkasih....
sekarang pukul 2.03 pagi. kau pasti sudah terlalu lelap di kamarmu yang mungil itu. kamar yang dulu selalu menginfeksi kita dengan rindu. kamar yang dulu dindingnya memantulkan tawa kita yang kemudian diakhiri dengan tangis tanpa jeda. aku berharap kau tidak lupa lagi menutup jendela kamarmu, karena dingin sudah mulai menguap sekarang.
aku percaya banyak hal tidak perlu diungkapkan. seperti dulu, aku memilih untuk mencintaimu dengan perbuatan bukan dengan kata. maka hari ini, aku juga memilih untuk merindukanmu dengan perbuatan.
aku merindukanmu sejak kemarin. jangan kau tanya kemarin itu kapan! karena aku sudah tidak ingat lagi sejak kapan aku mulai merindukanmu. jika pun aku ingat, kau memerlukan kalkulator 14 digit untuk menghitung jumlah detik yang telah aku habiskan untuk merindukanmu. mengapa aku ingin mejumlahkannya dalam satuan "detik", bukan dalam menit, bukan dalam jam, bukan dalam hari, apalagi dalam bulan atau tahun? karena kau ada dalam setiap detik hidup yang aku lalui.
sekarang, sudah pukul 2.39 pagi. aku masih merindukanmu. aku rasa, beberapa detik kemudian pun, aku pasti masih bertahan merindukanmu dengan kerinduan yang sama besarnya. sebuah kerinduan yang tidak pernah memasrahkan dirinya untuk digusur oleh perpisahan. jangan tanya seberapa besar aku merindukanmu! karena aku tidak tahu. tidak ada cara untuk menakarnya juga tidak ada takaran yang bisa mengukurnya. tapi yang pasti, tidak pernah berkurang sekalipun ada jarak yang membentang sekarang. tidak juga berkurang sekalipun aku tahu mungkin aku telah tak dikenang. dan tidak mampu berkurang meski aku menginginkannya sekarang.
#tetap rindu Fransiskus Budang
sekarang pukul 2.03 pagi. kau pasti sudah terlalu lelap di kamarmu yang mungil itu. kamar yang dulu selalu menginfeksi kita dengan rindu. kamar yang dulu dindingnya memantulkan tawa kita yang kemudian diakhiri dengan tangis tanpa jeda. aku berharap kau tidak lupa lagi menutup jendela kamarmu, karena dingin sudah mulai menguap sekarang.
aku percaya banyak hal tidak perlu diungkapkan. seperti dulu, aku memilih untuk mencintaimu dengan perbuatan bukan dengan kata. maka hari ini, aku juga memilih untuk merindukanmu dengan perbuatan.
aku merindukanmu sejak kemarin. jangan kau tanya kemarin itu kapan! karena aku sudah tidak ingat lagi sejak kapan aku mulai merindukanmu. jika pun aku ingat, kau memerlukan kalkulator 14 digit untuk menghitung jumlah detik yang telah aku habiskan untuk merindukanmu. mengapa aku ingin mejumlahkannya dalam satuan "detik", bukan dalam menit, bukan dalam jam, bukan dalam hari, apalagi dalam bulan atau tahun? karena kau ada dalam setiap detik hidup yang aku lalui.
sekarang, sudah pukul 2.39 pagi. aku masih merindukanmu. aku rasa, beberapa detik kemudian pun, aku pasti masih bertahan merindukanmu dengan kerinduan yang sama besarnya. sebuah kerinduan yang tidak pernah memasrahkan dirinya untuk digusur oleh perpisahan. jangan tanya seberapa besar aku merindukanmu! karena aku tidak tahu. tidak ada cara untuk menakarnya juga tidak ada takaran yang bisa mengukurnya. tapi yang pasti, tidak pernah berkurang sekalipun ada jarak yang membentang sekarang. tidak juga berkurang sekalipun aku tahu mungkin aku telah tak dikenang. dan tidak mampu berkurang meski aku menginginkannya sekarang.
#tetap rindu Fransiskus Budang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar