Kamu selalu punya pilihan.
Ingat itu.
Ketika kamu memilih untuk menyelamatkan dirimu dengan menyakiti orang lain, ingatlah bahwa sekecil apapun pilihan tetap akan memiliki konsekuensi.
Dan ketika konsekuensi itu datang, ingatlah bahwa aku telah memperingatkanmu akan hal ini.
Dan ketika kamu benar-benar mengingat hal ini, ingatlah bahwa semua ini sudah berlalu. Dan tidak ada jalan bagimu untuk kembali.
Ingatlah bahwa dulu kita adalah manusia yang mengikat diri dengan cara yang baik dan tujuan yang baik pula. Tapi ketika keadaan menyakiti kita, tak lantas kita perlu menyakiti satu sama lain hanya untuk mempertahankan diri. Kita adalah cinta. Dan cinta tidak menyakiti tapi membebaskan.
Aku mencintaimu, selalu Fransiskus Budang!
Di sinilah kita berakhir. Di tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terisi sesak oleh kenangan. Di ujung yang tidak diharapkan.
Senin, 02 Juni 2014
Minggu, 01 Juni 2014
Retak, Kemudian Pecah
Di sinilah kita berakhir. Di tulisan-tulisan yang tidak ingin dibaca. Di kalimat-kalimat yang sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk diucapkan. Di kekosongan yang terjejal sesak oleh kenangan menyakitkan. Di ujung yang tidak pernah diharapkan. Kemarahan. Kebencian. Penderitaan.
Aku sudah memberimu alasan untuk membenciku. Gunakanlah itu untuk bertahan hidup. Gunakanlah itu untuk tidak kembali tercebur dalam penderitaan yang sama. Gunakanlah itu untuk menguatkanmu untuk tetap menjaga jarak agar kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk saling menyakiti.
Aku bukan terlalu ego untuk meminta maaf, tapi aku hanya membiarkan itu menjadi alasanmu untuk membenciku. Karena, jika kamu tidak memiliki sesorang untuk dibenci, kamu mungkin akan berakhir membenci dirimu sendiri. Dan aku tidak ingin itu.
Terima saja bahwa kita adalah kaca yang telah lama retak. Namun dipaksakan untuk terus dipakai. Dan akhirnya, pecah. Selesai dengan cara yang tidak diinginkan dan tidak lagi bisa diperbaiki. Semoga inilah akhir dari segalanya.
Aku sudah memberimu alasan untuk membenciku. Gunakanlah itu untuk bertahan hidup. Gunakanlah itu untuk tidak kembali tercebur dalam penderitaan yang sama. Gunakanlah itu untuk menguatkanmu untuk tetap menjaga jarak agar kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk saling menyakiti.
Aku bukan terlalu ego untuk meminta maaf, tapi aku hanya membiarkan itu menjadi alasanmu untuk membenciku. Karena, jika kamu tidak memiliki sesorang untuk dibenci, kamu mungkin akan berakhir membenci dirimu sendiri. Dan aku tidak ingin itu.
Terima saja bahwa kita adalah kaca yang telah lama retak. Namun dipaksakan untuk terus dipakai. Dan akhirnya, pecah. Selesai dengan cara yang tidak diinginkan dan tidak lagi bisa diperbaiki. Semoga inilah akhir dari segalanya.
Frans Budang
Jumat, 15 Februari 2013
Valentine
Dear Valentine...
Terima kasih atas keberadaanmu. Terima kasih karena telah menjadi alasan bagi terciptanya masa 3:37:05 yang indah dalam hidupku hari ini. Kamu membuatku mendengar suaranya lagi. Coklat mana pun tidak akan mempu menandinginya.
Aku selalu merindukan masa di mana jantungku melaju begitu kencang ketika aku berhadapan denganmu. Dan hari ini, kamu membuatku kembali menyadari, bahwa rasa itu tetap ada. Utuh, dan tetap pada tempatnya.
"Kehadairan orang baru akan mambuatmu melupakanku"
Aku berpendapat lain. Tidak akan ada orang baru sebelum aku berhasil melupakanmu. Atau paling tidak "mengabaikanmu". Sebab, tidak akan ada raung untuk siapa pun jika kamu masih di sana. Di tempat yang seharusnya sudah di kosongkan.
Intinya, terima kasih karena mengatakan, "saya merindukan kamu". Terima kasih karena mengatakan, "saya mencintai kamu hingga hari ini". Terima kasih kerena mengatakan, "saya mengingatmu setiap hari" Terima kasih kerena mengatakan banyak hal...
Selasa, 05 Februari 2013
Nyanyian hujan
Jika hujan menyentuh atap rumahmu, itu artinya aku tengah merindukanmu. Jangan dongakkan kepalamu untuk menantang hujan, aku tidak ingin hujan membagi dukaku. Cukup ulurkan tangan lewat jendela kamar tidurmu. Dan biarkan rintik-rintik itu mengapung di telapkmu. Atau menembus sela-sela jarimu. Itulah aku yang tengah menyentuhmu.
Rabu, 09 Januari 2013
.....
My Dear.
Resah adalah pertanda bahwa masih ada hal yang belum selesai. Kehilanganmu tidak menjadi satu-satunya alasan yang melukaiku begitu dalam. Tapi ketidakpastian seberapa besar kebenaran dari setiap omonganmu, atau ketidaktahuanku akan bagian mana dari cerita kita yang mewakili kebenaran dan bagian mana yang hanyalah kebohonganlah yang lebih melukaiku. Hingga hari kita memutuskan untuk berpisah, setumpuk tanya masih tidak terjawab. Entah kamu yang tidak pernah jujur, atau akulah yang tidak lagi mampu membuka diri untuk mendengar kejujuran. Tapi yang pasti, semua itu membuatmu enggan enyah dari kepalaku.
Masa lalu tidak seharusnya menjadi hantu. Masa lalu tidak seharusnya menjadi arah. Masa lalu tidak lagi pantas melukai. Namun, masa lalu adalah bagian dari diri kita. Jadi, jangan salahkan aku yang masih sering membicarkan masa lalu.
Selasa, 27 November 2012
Hujan
Sekarang, tengah hujan. Aku tidak tau apa yang tengah kamu lakukan, siapa yang ada dipikiranmu, tapi aku tau bahwa aku mengingatmu.
Pertemuan hujan dan atap rumah adalah cara alam menghidupkan kembali kenangan-kenangan yang satu-satu tersimpan di alam bawah sadarku. Dan ketika mereka datang kembali, rindu yang sama bergemuruh. Seperti hendak menelanku dalam derita.
Selalu. Aku mengingatmu. Entah itu suara hujan jatuh, angin berhembus, musik bermain, atau sepi yang tidak menyerukan apapun, semuanya mengingatkanku padamu, selalu.
@frans budang
Jumat, 02 November 2012
Tadi malam saya tidak bisa tidur. Kenangan tentang kehilangan hape 1 tahun yang lalu mengguncang otak saya. Ada begitu banyak hal tidak senonoh yang tersimpan di memori hape saya. Cerita hidup saya juga beberapa foto yang memang tidak pantas untuk ditunjukkan.
Saya merasa seperti menunggu, enatah kapan masalah ini akan meledak.
Langganan:
Postingan (Atom)